Cari

Budi Iskandar

Jejak Literasi "Baca, Dengar, Tulis dan Menginspirasi"

Kategori

Fiksi

tulisan berisikan cerita, atau karangan-karangan

Perjalanan Pertama

Hamparan laut biru, langit yang cerah, dan bukit-bukit hijau memesona mata. Indah terlihat. Para nahkoda siap mengantarkan penumpang mengarungi lautan luas yang indah itu. Ikan-ikan kecil berwarna-warni, hilir mudik dibawah kapal. Dan sampah-sampah liar mengambang di permukaan.

Kampal besar dengan tulisan I Love Indonesia, meneguhkan hati Fatir, guru muda yang dikirim untuk mengajar di pelosok tanah Sumbawa. Yang dia bayangkan hanya kuda, dan madu, sesekali terlintas wajah anak- anak pedalaman yang akan menyambutnya dengan wajah berseri. Itu pun belum tergambar jelas. Apa yang akan dia temui nanti belum tentu sama dengan apa yang dibayangkaannya saat ini. Continue reading “Perjalanan Pertama”

Iklan
Featured post

Aku di Sini Bersyukur Mak…

Ayam sudah tidak berdaya mak

Kini Anjing-anjing dan dinginnya pagi yang sering membangunkanku

Air keruh bercampur kapur yang sering ku pakai mandi

Benar memang, Indonesia ini seperti kolam susu

Airny putih dan bukan kiasan

Tapi mak, tetanggaku di sinu banyak yang meninggalkan anaknya

Mereka rantau je Malaisya, kalau tidak ke Saudi

Alasannya mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup mak

Mak mereka tidak sepertimu

Memperhatikan masa depan anak

Mak aku baru tahu kalau ini adalah konsekuensi ekonomi

Tapi mak, aku sangat bersyukur punya emak sepertimu

Terimakasih emak

Sudah berjuang untuk anakmu ini

I LOVE YOU FULL

Festival Male dari Sumbawa Barat

Male nama lain peringatan maulid nabi dari sumbawa barat. Kekhasan dari sumbawa di tampilkan dalam festival male. Makanan sepat ikan bakar yang di bumbui, sate ikan yang di bumbu kuning, dan palupu’ adalah makanan dari susu sapi atau kerbau yang di campur dengan terung para. Continue reading “Festival Male dari Sumbawa Barat”

Featured post

Apa Resolusimu Tahun Depan ?

4Jangan kelamaan mikir, ayo cepetan mikir. Tahun depan mau ngapain. Kudu jelas buat rincian masa depanmu. Kalau-kalau tahun 2014 masih banyak keinginan kamu yang belum tercapai, saatnya untuk diwujudkan tahun 2015.

Tahun depan kudu lebih jelas dan detail. Kalau kamu masih muda, masih banyak waktu yang bisa kamu gunakan sebaik mungkin, jangan samapai tahun depan berlalu tanpa ada manfaat. Coba diskusikan dengan orang tua atau teman dekatmu tentang apa yang kamu inginkan di tahun depan, barang kali mereka bisa membantu kamu memberikan ide.

Coba lihat keluar rumah, ada banyak orang yang sedang asik memainkan kembang api. Bisa jadi mereka sudah pada punya resolusi untuk tahun 2015, tapi kemungkinan terburuk mereka hanya menikmati tahun baru, tanpa memikirkan apa yang akan mereka lakukan di tahun yang akan datang.

Buat resolusi gak usah tanggung-tanggung. Apa yang kamu pikir dan apa yang kamu mau, coba tuliskan dan buat langkah-langkahnya. Setiap resolusi yang sudah kamu buat nanti bisa kamu cek, apakah sudah kamu dapatkan atau belum. Kalau belum kamu bisa berusaha lebihi giat lagi buat dapetin apa itu resolusi kamu.

Ayo lakukan. Kamu pasti tahu ” sebaik-baik manusia adalah yang, hari ini lebih baik dari hari kemarin” begitupun dengan tahun depan, kamu harus lebih baik dari tahun sebelumnya.

Selamat membuat resolusi… U CAN!!!

Pemimpi

Hidup di sore hari

hanya ada gelap dan lembayung yang semakin nampak

cempor di dapur sebentar lagi dinyalakan emak

Minyak yang tinggal beberapa tetes adalah sebuah asa

untuk hidup bersama ketika malam tiba

Tapi aku tak mau gelapnya sore ini ada di depanku

aku harus melangkah

kan ku ajak emak dan abah

menjelajah jauh mencari cahaya-cahaya lampu

sekarang cempor semakin sekarat

hanya ada emak di sampingku

menyajikan cerita dengan suaranya yang semakin parau

perlahan malam menghening

dan pikiranku menjelajah negeri sang pemimpi

Menapaki jalan Perpisahan Sang Guru Muda

Kini guru lusuh itu sudah pergi. Perpisahan sudah digelar dengan murid-muridnya. Lautan tangisan mengalir deras ,haru memenuhi seisi ruangan. Tak terkecuali anak kelas dua yang selama ini mengaguminya. Dia tidak ingin jauh dari guru muda itu. Detik-detik terakhir di gunakannya untuk bertanya segala hal, tentang angkasa, dan cita-citanya.

Beberapa saat sang anak menagih janji guru muda untuk mengajar di kelasnya. Sang guru hanya bisa minta maaf sembari menpuk-nepuk pundak anak. Continue reading “Menapaki jalan Perpisahan Sang Guru Muda”

Featured post

Hujan

Duh, hari ini begitu menyemangati

katanya hujan mau bersembunyi di balik terangnya langit

Namun mentari tak mampu menahann panas tubuhnya

Dan hujanpun tak mampu menahan keringat yang sudah bertumpuk

Peluh itu bercucuran satu tetes

Melimpah dan kuyup tubuhnya bumi

Terus tidak berhenti

Sampai tibalah gumanda magrib

Reda segalanya, hingga peluhpun tak lagi ada

Malam dan Rembulan

Malam sudah semakin larut

Rembulan persis di atas ubun-ubun

Dia tak lagi malu-malu tersenyum untuku

Malam menghilang berganti langit kekuningan

dan rembulanpun…

lari mencari malam-malam berikutnya

Bogor, 07-11-2014

Reza masih Tetap Guru

Siang begitu terik. Lama hujan tak turun membasahai bumi yang semakin panas. Tetesan peluh merembes mengisi serat-serat kain baju batik berwana biru. Gaduh. Diantara dia ada riuh suara anak yang sedang menikmati jam beristirahat.

Baju biru itu semakin basah. Tampak jelas di bagian punggungnya seperti genangan air. Meski demikian dia tetap menikmati hari-harinya sebagai guru. Panggil dia Reza, seorang guru muda. Kini dia sedang menikmati hari-hari bersama anak-anak barunya.

Sesekali disela melepas rasa panas karena seharian di ruang kelas, berdatangan anak-anak kelas rendah. Mereka menyalami tangan Reza yang hangat. Tak lupa salam dan sapa bergantian di lontarkan anak-anak dan Reza.

Tak terasa bel kelas sudah berbunyi lagi “tret,tret, tret” bebrapa anak berhamburan dari warung-warung kecil di samping sekolah. Lari tunggang langgang, masuk melewati pintu-pintu yang sudah tak terawat. Dan Mereka sudah siap untuk melanjutkan pelajran kembali.

Reza melanjutkan tugasnya sebagai guru. Mendidik anak didiknya dengan sepenuh hati, menyapa mereka dengan penuh bahagia. Semua siswa menyukainya, mengharapkan agar dia menjadi guru anak-anak itu untuk selamanya. Dan Reza tak bisa memenuhi permintan siswa yang satu ini.

Reza harus pergi, mendatangi anaknya yang lain. Sekolah yang kini dia tempati, itu hanya persinggahan sementara. Sedangkan perjalanan panjangnya akan dia buat di tempat lain. Tempat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Daerah terpencil yang tak pernah dia jamah.

Meski siswanya harus menelan kecewa, inilah jalan hidup seorang guru. Harus berani mengambil pilihan. Reza hanya punya satu keyakinan. Jika hari ini siswanya sulit untuk melepas dia, akan ada Reza yang lain yang akan menempati hati siswanya. Seorang pendidik yang berkarakter dan bisa melanjutkan apa yang sudah dia tanam di sekolah tersebut.

Reza hanya titipkanh pesan untuk siswanya ” jangan berhenti bermimpi, tekunlah dalam belajar. Dan yakinkan bapak, jikalau hari itu tiba, kalian akan hadir di depan bapak dengan pribadi-pribadi yang sukses”

Featured post

WordPress.com.

Atas ↑