Cari

Budi Iskandar

Jejak Literasi "Baca, Dengar, Tulis dan Menginspirasi"

Kategori

Perjalanan

Beberapa momen yang saya alami tertulis disini. Walaupun tidak semua, karena terkadan g saya lupa untuk menuliskannya ;)

Perjalanan Pertama

Hamparan laut biru, langit yang cerah, dan bukit-bukit hijau memesona mata. Indah terlihat. Para nahkoda siap mengantarkan penumpang mengarungi lautan luas yang indah itu. Ikan-ikan kecil berwarna-warni, hilir mudik dibawah kapal. Dan sampah-sampah liar mengambang di permukaan.

Kampal besar dengan tulisan I Love Indonesia, meneguhkan hati Fatir, guru muda yang dikirim untuk mengajar di pelosok tanah Sumbawa. Yang dia bayangkan hanya kuda, dan madu, sesekali terlintas wajah anak- anak pedalaman yang akan menyambutnya dengan wajah berseri. Itu pun belum tergambar jelas. Apa yang akan dia temui nanti belum tentu sama dengan apa yang dibayangkaannya saat ini. Continue reading “Perjalanan Pertama”

Featured post

School in the Jungle, kualitas internasional

Pertama mendengar bahwa saya diberikan amanah menjadi pendidik di kabupaten sumbawa barat-NTB, saya berpikir bahwa daerah ini adalah kawasan dengan kualitas pendidikan yang perlu ditingkatkan. Continue reading “School in the Jungle, kualitas internasional”

Featured post

IMG_1953

Kali ini saya mengunjungi pantai pasir putih di ujung kabupaten Sumbawa Barat. Pantai ini terhampar luas dari mulai ujung pelabuhan Pototano, sampai ke desa Kertasari. Nah, untuk lokasi tepatnya yang saya kunjungi adalah pantai yang berdekatan dengan pelabuhan Pototano,

Sebelum sampai ke pesisir pantai, saya melewati padang gersang, dimana pohon-pohon mengering, di samping kiri kanan saya melihat banyak bukit-bukit kering, ada Tower pemancar alat telekomunikasi disana. Sepertinya tower yang berdiri itu adalah Tower dari XL.

Perlu di ketahui juga, kalau di Sumbawa Barat katanya, 92% warganya pengguna XL. Begitulah tulisan di dinding-dinding bangunan yang sering saya jumpai di beberapa loksai di Sumbawa Barat. Hal ini terbukti dengan kuatnya sinyal provider tersebut. selain itu kartu yang dijual dipasaranpun hanya ada XL dan simpati #bukanIklan.

Barulah sampai di pesisir pantai, keindahan alam yang maha keren dapat kita nikmati. Saya bisa melihat Rinjani dengan jelas, meski sebenarnya saya sering melihatnya dari ujung bukit Mantar. Kalau dari pantai pasir putih ini, saya bisa melihat dari akar sampai ke pucuk, kurang lebih seperti itu saya bisa mengungkapkannya. Sedangkan jika dilihat dari Mantar Rinjani tidak nampak tinggi, mungkin karena faktor sayanya yang ada di atas Mantar juga. Di pasir putih ini, Mentari saat terbenam pun sangat jelas.

Pantai Pasir Putih memiliki keindahan yang tak terpelihara. Meski di depan mata banyak menyuguhkan keindahan, namun lokasi ini belum di perhatikan sepenuhnya oleh aparatur yang berwenang. Masih ada saja sampah yang dapat di jumpai di pesisir pantai. #Sampah di mana-mana.

Lokasi wisata domestik ini masih sangat sepi pengunjung. Para pengunjung datang hanya di waktu-waktu tertentu, seperti saat libur lebaran. Di hari-hari biasa, beberapa orang asli daerahĀ  pototano saja yang bermain ke pantai ini, hanya untuk sekedar main air, karena disini tidak adak tempat untuk berteduh, so, panas sekali.

IMG_20150917_175351

Kondisi pantai saat sore hari memang menyuguhkan sejuta pesona. Tepat di depan mata, terdapat pulau-pulau kecil, dan juga Gunung Rinjani. Indahnya saat matahari mulai terbenam. Karena desir ombak semakin pelan, dan alam semakin sepi. Saya merasa sudah saatnya untuk kembali mencari tempat peristirahatan.

Masih banyak pantai indah lainnya yang akan saya kunjungi. Mari mengeksplor Sumbawa Barat. šŸ˜‰

Featured post

Jpeg

Orang banyak tahu bahwa provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan provinsi dengan jumlah pantai yang sangat banyak. Pantainya menawarkan seribu pesona keindahan, mulai dari hamparan pasir putih yang bersih, birunya air laut, dan sunset yang memesona mata.

Continue reading “Pantai Poto Batu yang Menawan”

Eksplor Rarak Ronges

image

Kembali mendaki gunung. Rarak ronges desa di antara hutan belantara. Sore ini selepas mengantar tim Monev dari Sgi pusat (Mas Imam) ke Tongo, hari berikutnya (kamis/3-09-2015) di lanjut menuju desa Rarak ronges. Perjalanan di mulai dari bakat munte, di sana ada satu rumah orang jawa yang biasa kami jadikan sebagai terminal pemberhentian. Beberapa kali saya titip barang juga di sana. Termasuk keberangkatan kami sekarang.

Oh iya Desa Rarak ronges berada di kecamatan Brang rea, kabupaten Sumbawa Barat. Lokasinya termasuk yang paling pojok di Sumbawa. Di sana terdapat sebuah air terjun 3 lapis. Jadi airnya berundak-undak seperti tangga, begitu. Butuh waktu sekitar 30 menit dengan berjalan kakau untuk sanpai lojasi tersebut. Meski banyak hewan peliharaan seperti kuda, namun warga jarang memanfaatkannya. Hewan-hewan tersebut liarbdi hutan.

Rarak ronges tidak banyak menawarkan keindahan, namun ada sebuah bukit, dan disitulah kita bisa temulan kehidupan dunia maya alias di lokasi tersebut baru bisa dapat sinyal buat intetnetan, mengobrol dengan teman. Lokasi bukit sinyal ini berada di belakang sekolah, sebelum masuk ke perkampungan. Persis di tempat yang banyak batu-batu, dan ada satu bruga kecil di kebun yang merulakan tempat berteduh saat orang mencari jaringan.

Hanya ada satu moda transfortasi yang biasa mengantar penumpang naik turun gunung. Ranger namanya, ya seperti di Mantar tempatku mengabdi. Kendaraan tersebut awalnya di modali oleh dinas. Sekarang warha sendiri yang memilikinya, karena mobil dari dinas sudah rusak dan tidak terawat.

Jadi, karena rangernya tidak ada kali ini saya naik bersama 5 teman saya ada fitri 1, fitri 2, ilfa, elis, dan mas imam, kami menggunakan bak terbuka. Alhasil berhenti dulu di tengah jalan, karena mesinnya panas banget.

Saat di perjalanan ternyata tuh supir minta ongkos tambahan. Namanya juga sudah kesepakatan saat awal, jadi kami tidak menambahkan ongkos sesuai yang dia minta, alhasil dia jadi jutek berat šŸ˜¦ . Perjanan oun di lanjutkan, kami di turunkan di belakan sekolah. Katanya dia takut di marahi warga, karena jalanan yang belum kering. Ya sudah lah kami nerimo saja. Lagi oula jalanan menuju tempat andi tidak terlalu jauh.

Akhirnya masuk ke sesi paling ngenes. Saat kepulangan kami. Mobil yang rencana di sewa pulang pergi, eh malah nyantai kaya di pantai. Tuh supir ga ada berWATADOS. Dia sedang menyiram jalanan yang baru di beton. Saat saya tanya
” pak kita jalan sekarang ya”
“Iya sebentar saya ambil bensin”
Wajahnya yang tidak semangat akhirnya meruntuhkan semangat kami untuk menunggu dia lebih lama lagi. Dan jarak 10 km pun akhirnya kami tempuh denga berhalan kaki. Para ukhti pada ngomel, kenapa begini? Kenapa begitu? Mebyalahkan si supir.

Setengah perjalanan sudah terlewati. Kaki serasa melayang, jalanan yang menurun tiada henti memaksa lutut untuk menahan berat badan, dan barang bawaan. Namun durasi 2,5 jam alhamdulillah terlewati juga, sampai kami merasa plong dari ketakutan karena banyaknya babi yang kami temui di jalanan.

Jumat, 21 Agustus 2015. Perjalanan berikutnya menuju Jorok Tiram menemui anak-anak hebat di SDN Jorok Tiram. Awal jumpa mereka mungkin bertanya-tanya “siapa kakak itu ya? Continue reading “Dongeng gembira di Jorok Tiram-Kabupaten Sumbawa Barat”

11924217_10203251310242638_3172283947733156305_n18 Agustus 2015- Presiden Komunitas Ngejah kang Nero Taufik Abdillah menghadiri undangan langsung dari Gubernur Jawa Barat (Baca: Kang Aher). Bukan tanpa alasan kang aher mengundang kang Nero. Undangan tersebut dalam rangka memperingatiĀ  hari ulang tahun jawa barat yang ke 70. Hanya seling dua hari dengan Ulang tahun Indonesia yang ke 70. Continue reading “Presiden Komunitas Ngejah Raih Penghargaan dari Gubernur Jabar”

Featured post

Menakjubkan! Warga Sukawangi Arak Bendera Merah-Putih 170M Keliling Desa

image

Semua masyarakat di penjuru Indonesia merayakan hari Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang kini sudah berusia 70 tahun.

Continue reading “Menakjubkan! Warga Sukawangi Arak Bendera Merah-Putih 170M Keliling Desa”

Featured post

Lebaran Idul Fitri tidak selalu sama: tetap bersyukur, Karena ada nikmat dalam setiap kondisi

Takbiran menjadi moment yang paling dinanti setelah hari-hari di bulan Ramadhan kita lewati. Semasa kecil dulu, bahkan sampai saat aku menginjakan kaki di bangku kuliah, lebaran masih sama. Ada keramaian di kampung halaman tercinta. Sekalipun, tidak pernah aku melalui lebaran idul fitri di tanah orang. Ibu selalu memintaku untuk pulang kampung. Kalau tidak beliau pasti menelponku berulang-ulang. Dan pada akhirnya akupun luluh dan pasrah untuk pulang kampung. Continue reading “Lebaran Idul Fitri tidak selalu sama: tetap bersyukur, Karena ada nikmat dalam setiap kondisi”

Featured post

WordPress.com.

Atas ↑