Hamparan laut biru, langit yang cerah, dan bukit-bukit hijau memesona mata. Indah terlihat. Para nahkoda siap mengantarkan penumpang mengarungi lautan luas yang indah itu. Ikan-ikan kecil berwarna-warni, hilir mudik dibawah kapal. Dan sampah-sampah liar mengambang di permukaan.

Kampal besar dengan tulisan I Love Indonesia, meneguhkan hati Fatir, guru muda yang dikirim untuk mengajar di pelosok tanah Sumbawa. Yang dia bayangkan hanya kuda, dan madu, sesekali terlintas wajah anak- anak pedalaman yang akan menyambutnya dengan wajah berseri. Itu pun belum tergambar jelas. Apa yang akan dia temui nanti belum tentu sama dengan apa yang dibayangkaannya saat ini.

Beberapa tahun kebelakang dia menjadi guru di salah satu sekolah di kotanya Garut. Selain itu aktivitasnya di kerelawanan dalam dunia pendidikan semakin meneguhkan bahwa hidupnya tidak untuk dirinya sendiri. Hidup ini untuk berbagi kebahagiaan dimana saja, dengan siapa saja, termasuk bagi anak-anak di pelosok negeri.

Fatir tidak sendiri, ada 5 sahabat lainnya yang ikut menjadi bagian dari timnya untuk berjuang selama setahun lamanya. Mendidik anak-anak dan para guru di pelosok Sumbawa sana. Ada beribu harap yang mereka bawa untuk pendidikan ditanah Sumbawa.

Layaknya orang kota, sepanjang perjalanan diisi dengan canda tawa, dan selfie bersama. HP canggih di genggaman, tidak pernah lepas dari tangan, berkoper-koper barang bawaan sebagai bekal di penempatan. Pakaian, alat ibadah, dan acessories untuk kebutuhan sehari-hari, lengkap tidak ada yang tertinggal. Hanya bekal beras yang tidak mereka bawa.

“ Fatir, wah indah banget Rijani cuyy” sahut zahira anak papih yang ga pernah putus komunikasi sama ayahnya.

“Wah kerennn. Kapan-kapan kita harus pergi kesana, menikmati indahnya pemandangan bawah gunung dari sana. Kebayang banget kalau kita mendaki berenam yah!” sahut indah, perempuan yang tidak pernah jauh dari Handphonnya.

Indah menjadi salah satu guru muda paling sehat, dengan tubuh gempalnya. Tidak terlalu banyak bicara, rekan satu timnya menyangka kalau dia tidak suka sekelompok dengan mereka, namun Fatir selalu mencoba memahami kondisi ini. Indah lebih akrab dengan dunia maya. Jarinya lebih cerdas untuk berkomunikasi, merangkai kata atau sekedar bertanya.

Sesekali Yuli, dan Rani teriak “Rinjani, Rinjani. Sumbawa I am coming

Sedangkan Rahap tidak menghiraukan keributan mereka. Ditengah perjalanan kepalanya mulai pening, tidak tahan setelah menempuh perjalanan panjang, Jakarta menuju Lombok. Perjanan udara dan darat yang melelahkan terpaksa harus ditempuh. Tidak ada jalan lain agar mereka bisa sampai lokasi pengabdian. Bukan doraemon pula, yang punya pintu kemana saja.

Rahap menundukan kepala, bersandar pada batang kursi pendek dengan melengkungkan tubuhnya. Angin mngipas-ngipas badannya yang kecil. Dan keluarlah isi perut yang tidak diinginkan. Semua mata tertuju padanya.

Rani perempuan paling peka di tim menyambar tas, dan segera mengeluarkan keresek hitam berisikan gorengan didalamnya. Dengan sigap dia mengeluarkan semua isi keresek. Sedangkan Yuli diam terpaku, bingung apa yang harus dia lakukan. Yuli guru paling muda, usianya baru 22 tahun, dia akan lebih sigap kalau temannya meminta. Selama hidupnya dia tidak pernah keluar dari kota kelahirannya Tasikmalaya. Sekarang bukan kota lagi yang dia lintasi, tapi pulau yang jauh dari haribaan orang tuanya.

Keresek di tangan Rani sudah berpindah tangan, Rahap memegannya dengan tangan sedikit gemetar. Tidak kuat lagi menahan pening, dan mual. Ingin rasanya dia keluarkan semua isi perutnya untuk menuntaskan rasa-rasa yang tidak dia inginkan saat perjalanan.

“ Aku ga biasa menempuh perjanan panjang, isi perutku akan melompat-lompat, dan kepalaku dipenuhi burung-burung yang indah. Intinya aku akan mual dan pusing, ah sungguh menderita kalau sudah begitu!” selama diatas pesawat, Rahap menceritakan banyak hal pada Fatir. Mereka baru saja menjad teman akrab. Mereka mempunyai tanggung jawab sebagai dua laki-laki di tempat pengabdian. Ada 4 perempuan hebat yang harus mereka jaga, dan juga diri mereka masing-masing.

Sedangkan Fatir mengucap “Oh” tanda mengiyakan semua curahan hati Rahap kepadanya.

Di samping, kaum perempuan tertawa kecil, dan saling lempar pandang. Fatir hanya bisa menelan rasa penasaran dengan apa yag sedang mereka bicarakan.

“ Jadi ini kali kedua naik peswat ya bung Rahap ?” tanya Fatir, dia mencoba menenangkan rasa pusing Rahap yang sudah semakin jelas terlihat di guratan raut mukanya. Mungkin dengan ngobrol pusingnya bisa cepat hilang ucap Fatir dalam hatinya.

“ iya, aku tidak pernah keluar kandang, tingga saja di Medan. Kalau aku tidak ada niat buat jadi bagian pencerah Sumbawa, mungkin aku hanya menjadi pecundang yang tidak peduli dengan kehidupan bangsa ini” Retorika yang mampu menggetarkan jiwa. Semangat anak muda menggebu-gebu terpancar dari dalam diri Rahap.

Logat bicaranya yang khas Medan tidak lepas dari setiap ucapan yang keluar dari mulutnya. Meskipun sebenarnya dia adalah laki-laki terlembut dalam tim, tapi dengan nadanya yang membentak-bentak, menghilangkan kelembutan itu. Dia seperti laki-laki tersangar yang ada, terlebih perempuan satu timnya orang jawa semua

Sejak memasuki usia SMP Rahap dibesarkan di pesantren, 7 tahun lamanya dia mencari ilmu agama. Tidak begitu tahu dunia luar. Bahkan handphone canggihpun baru dia dapatkan saat hijrah ke bogor. Kota tempat pertama kali para guru muda itu dikumpulkan. Kota hujan itu menjadi saksi awal perjuangan mereka.

17 agustus 2014 30 sarjana dari berbagai latar pendidikan mendeklarasikan diri untuk menjadi guru muda di daerah terdalam, terluar dan tertinggal di Indonesia. Mengabdikan diri selama satu tahun jauh dari orang tua dan keluarga, sudah   menjadi tekad kuat didalam dada.

Riinjani semakin menjauhi pandangan, pelabuhan kahyangan semakin tidak terlihat. Kapal akan segera berlabuh, ke enam guru muda itu bersiap dengan barang bawaannya. Terdengar sebuah panggilan.

“Kepada seluruh penmpang diharap segera bersiap, sesaat lagi kapal akan segera berlabuh di Pelabuhan Pototano” suara itu keluar dari sound-sound kecil yangtertempel kokoh di sudut-sudut kapal.

Beberapa penumpang mash menikmati tidur siangnya, semilir angin membuat mereka malas untuk segera terbangun dari mimpi. Fatir tidak tidur dengan nyenyek. Sepanjang perjalanan dia sibuk memperhatikan barang bawaannya. Di tempat baru, sebagai pendatang baru, harus waspada adanya copet atau orang iseng yang berniat kurang baik.

Beberapa menit kemudian Fatir membangunkan ke enam temannya. Rahap tidur sangat pulas. Rasa pusing dan mualnya sudah hilang. Kini dia terlihar lebih segar dibanding saat di tengah lautan. Rani menghampiri   Yuli, Indah dan Zahira. Satu persatu dibangunkannya. Yuli dengan sigap sambil memutarkan mataya ke kanan, kiri depan belakang. Dia kaget, terbangun dari mimpinya. Sedangkan Zahira minta tambahan waktu untuk tidur kembali.

“ 5 menit lagi ya mbak Rani” Mata yang dibalut kacamata lensa kembali tertutup rapat.

Rani dengan sabar menunggu 5 menit itu habis. Namun belum 5 menit. Goncangan terjadi. Tandanya kapal sudah berlabuh, Zahirapun kembali terperanjat dan mengakhiri mimpi indahnya.

Semua penumpang sibuk dengan barang bawaannya, termasuk ke enam guru muda itu. Fatir tidak lupa mngingatkan teman-temannya untuk mengingat barang bawaan masing-masing.

“ coba dicek lagi ya, khawatir ada barang bawaan yang tertinggal”

Semuanya kembali memeriksa barang bawaan. Lengkap. Semua turun menuju lantai dasar kapal. Tempat dimana mobil-mobil pengangkut penmpang di simpan. Ke nam guru muda itu, mencari mobil DAMRI yang mereka tumpangi.

“ Itu mobil kita Teh Zahira. Sini teh Rani. Teh Indah! Simpan dulu HPnya, ayo kita segera naik” semuanya mengikuti langkah yuli, guru muda berperawakan mungil, dia juaga paling gesit kalau masalah kerjaan tim.

Sumbawa begitu panas, anginnya membuat kulit lengket. Kulit mereka terpanggang dengan cepat, warnanya berubah menjadi coklat. Namun tidak ada keluh, semuanya sudah tahu kalau sumbawa begitu panas. Semua informasi telah di dapat dari pak Google. Namun ada satu yang belum diketahui. Meskipun Google mengetahui banyak hal. Lapangan tidak selalu menampilkan infrmasi yang di dapat dari brousing. Kondisi lingkungan, kultur mayarakat, bagaimana dengan air, ada atau tidak?. Gur-guru yang akan menjadi partner nanti apakah mereka orangnya welcome ?. Tidak ada yang tahu persis.

Mereka akan terpisah jarak. Mengajar di sekolah yang berbeda. Dengan kondisi alam yang berbeda-beda pula. Ada yang di gunung, di dekat pantai, dipinggiran sungai. Di tengah-tengah hamparan pohon kokoh yag tinggi menjulang. Namun semua belum tahu kondisi yang sesungguhnya.

Hanya terbayang-bayang. Rasa takut, senang, bahagia, haru, gembira, sedih, dan rasa lainnya tergambar nyata dalam benak. Semua personil tim mendapatkan rasa yang berbeda saat perjalanan pertama mereka tempuh.

Iklan