Judul Buku                  : AyahP_20160130_122810.jpg

Penulis                         : Andrea Hirata

Cerita                          : Fiksi Indonesia

Penerbit                       : PT Bentang Pustaka

Cetakan kelima           : Agustus 2015

Jumlah Halaman          : 392 hal

Cerita tentag seorang ayah dikemas dengan apik dalam novel gubahan Andrea Hirata. Awal membaca merasa kebingungan karena ada dua alur cerita disuguhkan. Dua latar belakang kehidupan yang berbeda. Antara Amiru dan Sabari. Amiru adalah seorang bocah yang mulai tumbuh, dengan segala kecerdasannya. Sedangkan Sabari anak beranjak gede yang baru saja memulai petualangannya di bangku SMA. Sabari mulai mengenal perempuan di masa pertama mengikuti ujian masuk SMA. Perempuan itu adalah Marlene, perempuan bermata memesona. Sehingga Sabari tidak mampu melupakannya.

Mengejar marlena tanpa lelah, Sabari menampilkan seribu keahliannya dalam berbagai hal. Meski seantero sekolahan mengetahui keahlian Sabari, semua itu tak mampu memikat hati marlena. Sabari dengan muka pas-pasan tak mampu mengalahkan pesona laki-laki lain di hati marlena. Masa SMA berakhir dengan tragis, meski sering kali Sabari berkirim puisi, tidak kunjung tiba balasan surat dari Marlena.

Selepas menamatkan SMA, Sabari bersama teman-temannya, melanglang buana mencari pekerjaan yang layak. Apapun pekerjaannya Sabari tak pilih bulu. Bertahun dia bekerja sebagai buruh di pabrik es. Sampai pada waktunya dia berpikir untuk berpindah tempat kerja. Perusahaan Makroni adalah perusahaan yang bergerak di bidang batako. Makroni yakin dengan begitu dia telah ambi bagian memajukan pendidikan di Indonesia.

Sabari banyak dijejali pertanyaan kasar oleh Makroni, namun dia dengan lembut menjawab semua pertanyaan kasar itu. Dia tahu bahwa Makroni adalah orang tua marlena. Setahun bekerja dibawah Makroni, pretasi gemilang ditunjukan Sabari. Sabari sukses menyabet penghargaan sebagai pegawai teladan.

Disisi lain tidak jarang Sabari mendengarkan keributan yang terjadi di tengah keluarga Makroni. Pertengkaran antara Marllena dan Makroni sampai terdengar gemerentang suara gelas-gelas yang pecah. Namun Sabari sudah maklum dengan itu semua. Dia masih punya tanggunggan untuk menuntaskan hajatnya mendapatkan Marlena.

Pada akhirnya tidak ada hujan, tidak ada angin. Marlena menyerah pada tekanan sang ayah. Sabari dan Marlena remi menjadi sepasang suami istri. Sampai hadirlah buah hati yang sangat Sbari cintai, Zorro namanya. Anak kesayangan yang tak pernah lepas dari pangkuan Sabari. Sedang Marlena hilang entah kemana. Dia kembali menjani hidup sebagai wanita pengembara.

Sekali dua kali terdengar selentingan Marlena kembali kepangkuan pacar lamnanya, namu Sabari tak pernah mau memusingkannya. Dia begitu cinta tehadap Marlena dan Zorro. Hingga pada akhirnya datang sepucuk surat dari pengadilan. Surat gugatan cerai dari Marlena, yang sedikitpun Sabari tidak memahami isi surat itu, sehingga dari teman-temannya lah dia tahu kalu surat itu adalah suurat gugatan perceraian.

Zorro sudah cukup menjadi pengobat hatinya, meski dia harus merelekan Marlena pergi. Namun tidak demikian, Zorro pun ikut terlepas dari tangannya. Sekali kehilangan dua orang yang dia sangat cintai.

Marlena dan Zorro mengembara ke negeri Sumatera. Zorro tumbuh dengan kecerdasan super yang diturunkan kedua orang tuanya, terlebih, keahlian membuat puisi yang diturunkan Sabari. Dia menjadi anak cerdas. Sedangkan Marlena tiga kali brganti suami. Ada saja ketidak cocokan dengan suami-suaminya itu, sehingga dia memilih bercerai daripada meneruskan perjalanan cintanya.

Zorro ikut berkelana bersama sang ibu, sifatnya yang penyabar merupakan warisan dari Sabari. Dia pantang untuk mengeluh, dia rajin membaca buku. Disela-sela membantu ibunya menjaga kios, dia selalu menyempatkan membaca buku.

Waktu terus bergulir, di antara tetangganya tak ada yang tahu, kemana Sabari pergi. Rumahnya di belitong sudah tak terurus lagi. Semua temannya mecari Sabari kemana-mana- sampai Zuraiha menemukannya berpakaian coang camping pasar bersama-kucing-kucing kesayangannya. Untuk makanpun dia berharap belas kasihan orang lain. Jauh dari Sabari yang dulu.

Ukun dan Tamat berinisiatif untuk mencari Marlena dan Zorro. Mereka menyebrang menuju tanah Sumatera. Mencari Marlena dan anaknya Zorro. Uang disaku sudah habis, mereka kebingungan, apa yang harus dilakukan. Bahkan tujuh tahun silam sabari sempat berkirim surat menitipkannya pada penyu dilatan. Surat itu sampai ke Amerika dan ditemui oleh Larissa dan keluarga di Australia. Mereka pun ikut membantu orang hilang itu. Namun nihil tak kunjung mereka menemukannya.

Pada akhirnya Sabari tidak jadi gila. Dia dipertemukan dengan Amiru. Anak cerdas yang baru sajah tiba. Dia mengenakan baju Sabari, yang dulu sering dia bawa kemana-mana. Baju ini adalah obat segala obat. Sabari memulihkan ingatannya anaknya Amiru yang setelah 8 tahun dipisahkan jarak akhirnya kembali. Amiru pandai berpuisi. Semasa kecil Sabari selalu membacakan cerita sebelum tidur, dan kini iya dapat melakukannya kembali. Sabari dan Amiru senang. Mereka bisa saling berbagi kasih. Di tahun 2013 Sabari meninggal. Dan dibuatkanlah nisan bertuliskan “Biarkan aku mati dalam keharuman cintamu”. Di tahun 2014 Marlena menyusul Sabari, dan berpesan pada Amiru untuk menguburkannya di samping Sabari, kalupun tidak, setidaknya kuuran mereka bisa saling berdekatan dan pean terakhirnya Marlena meminta Amiru mnulikan kalimat “ Purnama kedua belas” dibawah namanya.

Sebuah roman yang tidak hanya menceritakan kisah antara perempuan dan laki-laki saja, namun kasih antara seorang ayah dan anak yang sayang untuk dilewatkan.

Iklan