Pertama mendengar bahwa saya diberikan amanah menjadi pendidik di kabupaten sumbawa barat-NTB, saya berpikir bahwa daerah ini adalah kawasan dengan kualitas pendidikan yang perlu ditingkatkan.

Seperti kita tahu, pemerintahpun memprioritaskan calon mahasiswa dari wilayah timur, khusunya NTB untuk mendapatkan beasiswa kuliah dengan sedikit mengurangi beban di beberapa persyaratan pengajuan beasiswa kuliah. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia yang baik dari kawasan indonesia paling timur.

Pada kenyataannya saya benar-benar menjadi tenaga pendidik di pelosok sumbawa barat, SDN Mantar. Desa dengan indeks kesadaran pendidikan yang masih rendah. Begitupun dengan 5 teman saya lainnya, rata-rata dari kami mendapatkan lokasi penempatan mengajar di bagian pelosok, dengan akses informasi yang sangat minim. Hnya untuk berinteraksi saja kami cukup kesulitan.

Namun tidak selamanya tinggal di gunung, jauh dari keramaian, dan dikelilingi hutan belantara dapat dikatakan daerah “terpencil”.

image

Di Kabupaten Subawa Barat saya menjumpai adanya sebuah sekolah dengan kwalitas internasional. Padahal lokasi sekolah berada di daerh terpencil. Kalau begitu seharusnya guru-guru di sekolah ini dapat Gudacil dong ya?

Tapi tidak begitu, sepertinya guru-guru disekolah ini tidak perlu lagi tunjangan Gudacil yang sangat di danba-dambakan banyak guru di daerah. Gaji bulanan mereka lebih besar daripada gaji PNS di Indonesia.

Sekolah Buin Batu, sekolah ini menyediakan pendidikan gratis bagi anak pegawai PT.Newmont Indonesia. Namun tidak semua abak pegawai dapat menikmati pendidikan berkualitas dari sekolah ini. Hanya pegawai dengan grade tertentu yang mendpatkan fasilitas pendidikan untuk bersekolah di Sekolah Buin Batu.

Sekolah Buin Batu layaknya sekolah diantara belantara. Sarana pendidikan yang disediakan mulai daru playgroup samoai dengan tingkat SMP.

Semua keburuhan mendidik sangat lengkap, dari mulai klhal kecil sampai teknilogi seperti laptop untuk suswa sudah disediakan di sini.

Bahasa pengatar disekolah ini menggunakan bahasa Inggris dengan mengadopsi Kurikulum Cambridge. Gaya belajar yang diterapkan sangat menarik, yaitu gaya inquiri dimana siswa diberikan keleluasaan untuk mencari sebuah makna sendiri. Gaya belajar dengan mengedepankan guru sebagai aktor tidak lagi jadi acuan.
Setelah saya melihat kondisi swkolah ini. Saya berpikir kembali, menyoal sekolah terpencil itu bukan lagi masalah akses, tapi masalah dana dan suport. Buktinya sekolah Buin Batu yang keberadaannya jauh dari peradaban, namun bisa mencetak anak-anak cerdas yang kini tersebarbdi beberapa kampus besar dalam dan luar negeri.

Sebuah catatan, mengambil ibroh dari apa yang sudah saya lihat. Dan meyakinkan diri bahwa menjadi anak desa yang jauh dari keramaian kota, masih punya kesempatan untuk bangun, menyemai indahnya pendidikan untuk anak negeri ini.

Iklan