Belajar matematika itu butuh pikiran yang tenang, jernih, dan santai. Untuk menenangkan pikiran siswa, maka di setiap awal pembelajaran saya terbiasa memberikan apersepsi awal untuk siswa. Disamping itu senam otak juga menjadi andalan untuk menyeimbangkan kemampuan berfikir siswa, antara otak kanan dan otak kiri.

Beberapa kali saya mengajar pelajaran yang sama yaitu IPA, sejak menginjakan kaki di SDN Mantar. Namun di hari ini saya mengajar materi pelajaran yang berbeda, karena ada satu guru kelas IV yang sedang prajabatan, sehingga saya ditugaskan menjadi guru kelas sementara. Saya mengajarakan siswa materi matematika.

Kemampuan siswa SDN Mantar dalam berhitung cukup sulit. Membuat saya harus pintar-pintar mengemas pelajaran, agar siswa benar-benar paham tentang pelajaran yang disampaikan, terlebih ini pelajaran matematika. Seperti kebanyakan orang, siswa saya sering mengatakan “noktoh”( tidak bisa) untk pelajaran matematika.

Jumlah siswa kelas IV ada 25 siswa. Beberapa kali saya mengamati siswa didik saya, hanya beberapa saja yang bisa berkonsentrasi saat belajar. Dan kali ini saya pilih 5 siswa inti yang akan saya fokuskan untuk belajar matematika, bukannya saya tidak menghiraukan siswa yang lainnya, namun ini adalah salah satu strategi pembelajaran matematika kali ini.

Materi pelajaran yang saya sampaikan adalah operasi perkalian. Seperti biasa, ketika saya menuliskan materi pelajaran di depan semua siswa serentak bertanya.

“pak, tulis pak?” begitu tanya mereka.

“ sekarang tidak perlu di tulis ya, anak. Kalian cukup perhatikan bapak saat menjelaskan. Nanti bapak beri waktu kalian untuk menulis, Ok ?” jawabku..

“ au pak” timpal mereka. Meski pada kenyataanya beberapa diantara mereka tidak menghiraukan apa yang saya katakan.

Selesai menuliskan beberapa contoh soal operasi perkalian dengan cara susun pendek, tibalah saatnya saya menjelaskan. Lima siswa yang sudah saya gadang-gadangkan untuk menjadi guru muda dikelasnya, rupanya sangat antusias mendenganrkan penjelasan yang sampaikan.

2 1

4

–– ×

8 4

“empat kali satu, berapa anak ?”

“empat pak”

“empat kali dua, berapak anak?”

“delapan pak”

“ ya kalian memang pintar. Ayo tepuk keren semuanya” pintaku.

Semua mengangkat tangan, lalu menunjukan jempol kanan dan kirinya sambil melagukan lirik lagu tepuk keren.

“ dua jempol, hadap kita, keren, keren, keren…”

Tepukan yang sudah mendarah daging untuk siswa saya di kelas IV.

Sekarang saatnya mengerjakan soal. Saya berikan lima soal untuk dikerjakan, tentunya dengan menggunakan opereasi perkalian susun pendek. Setelah saya berkeliling melihat satu persatu buku siswa saya, tidak ada satupun yang sudah mengerjakan soal yang saya beri. Strategi awalpun saya luncurkan. Saya mendekati satu persatu calon guru muda di kelas IV. Pertama saya datangi Kinanjar, anak laki-laki yang biasa dapat rangking di kelasnya. Saya jelaskan satu soal dengan pendekatan people to people. Sampai Kinanjar paham.

“bagaimana Kinanjar, mengerti ?” tanyaku selepas memberikan penjelasan.

“ oh ya ya ya, ngerti pak” Kinanjar menjawab, sambil tersenyum dan matanya menghilang tertelan kelopak mata yang mirip Cina.

Selanjutnya ada empat kawannya, yaitu Sahari, Toni, Devi, dan Susanti yang mendapatkan penjelasan secara pribadi dari saya.

Kelima calon guru muda dari kelas empat ini memiliki tugas tambahan dari saya. Selain mengerjakan empat soal berikutnya, mereka juga memiliki tugas mengajari teman-temannya yang lain. Meski di awal mereka agak ragu untuk membantu temannya mengerjakan soal. Namun saya coba meyakinkan mereka, alhasil mereka pun luluh dan gesit membantu satu demi satu temannya yang kesulitan.

“Kamu ajari caranya pada teman-teman kamu yang lain ya” begitu pintaku pada ke lima calon guru muda tadi. Mereka pun semangat mengiyakan apa yang saya minta. Di datangilah satu persatu teman-temannya yang belum mengerti cara pengerjaan. Meski beberapa kali mereka temui diantara temannya ada yang tidak mau diajari. Bagian yang ini saya yang menuntaskan. Tapi hanya sebagian kecil saja anak yang hiperaktif seperti itu.

Jpeg

Melihat aktifitas kelima guru muda saat menjelaskan cara pengerjaan soal tadi, saya merasa bahwa pembelajaran dengan mengangkat guru muda dari kelasnya sendiri ternyata cukup efektif untuk pengajaran matematika, mereka memahami apa yang disampaikan sesama teman dengan menggnakan bahasa sehari-hari. Satu lagi yang membuat saya merasa puas pada pembelajaran kali ini, dengan strategi mengangkat guru muda, alhamdulillah anak-anak yang lain ikut antusias untuk menjadi guru muda selanjutnya.

Iklan