image

Kembali mendaki gunung. Rarak ronges desa di antara hutan belantara. Sore ini selepas mengantar tim Monev dari Sgi pusat (Mas Imam) ke Tongo, hari berikutnya (kamis/3-09-2015) di lanjut menuju desa Rarak ronges. Perjalanan di mulai dari bakat munte, di sana ada satu rumah orang jawa yang biasa kami jadikan sebagai terminal pemberhentian. Beberapa kali saya titip barang juga di sana. Termasuk keberangkatan kami sekarang.

Oh iya Desa Rarak ronges berada di kecamatan Brang rea, kabupaten Sumbawa Barat. Lokasinya termasuk yang paling pojok di Sumbawa. Di sana terdapat sebuah air terjun 3 lapis. Jadi airnya berundak-undak seperti tangga, begitu. Butuh waktu sekitar 30 menit dengan berjalan kakau untuk sanpai lojasi tersebut. Meski banyak hewan peliharaan seperti kuda, namun warga jarang memanfaatkannya. Hewan-hewan tersebut liarbdi hutan.

Rarak ronges tidak banyak menawarkan keindahan, namun ada sebuah bukit, dan disitulah kita bisa temulan kehidupan dunia maya alias di lokasi tersebut baru bisa dapat sinyal buat intetnetan, mengobrol dengan teman. Lokasi bukit sinyal ini berada di belakang sekolah, sebelum masuk ke perkampungan. Persis di tempat yang banyak batu-batu, dan ada satu bruga kecil di kebun yang merulakan tempat berteduh saat orang mencari jaringan.

Hanya ada satu moda transfortasi yang biasa mengantar penumpang naik turun gunung. Ranger namanya, ya seperti di Mantar tempatku mengabdi. Kendaraan tersebut awalnya di modali oleh dinas. Sekarang warha sendiri yang memilikinya, karena mobil dari dinas sudah rusak dan tidak terawat.

Jadi, karena rangernya tidak ada kali ini saya naik bersama 5 teman saya ada fitri 1, fitri 2, ilfa, elis, dan mas imam, kami menggunakan bak terbuka. Alhasil berhenti dulu di tengah jalan, karena mesinnya panas banget.

Saat di perjalanan ternyata tuh supir minta ongkos tambahan. Namanya juga sudah kesepakatan saat awal, jadi kami tidak menambahkan ongkos sesuai yang dia minta, alhasil dia jadi jutek berat 😦 . Perjanan oun di lanjutkan, kami di turunkan di belakan sekolah. Katanya dia takut di marahi warga, karena jalanan yang belum kering. Ya sudah lah kami nerimo saja. Lagi oula jalanan menuju tempat andi tidak terlalu jauh.

Akhirnya masuk ke sesi paling ngenes. Saat kepulangan kami. Mobil yang rencana di sewa pulang pergi, eh malah nyantai kaya di pantai. Tuh supir ga ada berWATADOS. Dia sedang menyiram jalanan yang baru di beton. Saat saya tanya
” pak kita jalan sekarang ya”
“Iya sebentar saya ambil bensin”
Wajahnya yang tidak semangat akhirnya meruntuhkan semangat kami untuk menunggu dia lebih lama lagi. Dan jarak 10 km pun akhirnya kami tempuh denga berhalan kaki. Para ukhti pada ngomel, kenapa begini? Kenapa begitu? Mebyalahkan si supir.

Setengah perjalanan sudah terlewati. Kaki serasa melayang, jalanan yang menurun tiada henti memaksa lutut untuk menahan berat badan, dan barang bawaan. Namun durasi 2,5 jam alhamdulillah terlewati juga, sampai kami merasa plong dari ketakutan karena banyaknya babi yang kami temui di jalanan.

Iklan