Takbiran menjadi moment yang paling dinanti setelah hari-hari di bulan Ramadhan kita lewati. Semasa kecil dulu, bahkan sampai saat aku menginjakan kaki di bangku kuliah, lebaran masih sama. Ada keramaian di kampung halaman tercinta. Sekalipun, tidak pernah aku melalui lebaran idul fitri di tanah orang. Ibu selalu memintaku untuk pulang kampung. Kalau tidak beliau pasti menelponku berulang-ulang. Dan pada akhirnya akupun luluh dan pasrah untuk pulang kampung.Antara bandung dan Garut tidak terlalu jauh, aku masih bisa menjangkaunya dengan berkendaraan menggunakan sepeda motor. butuh waktu 7 samapai 12 jam agar aku bisa sampai di tanah kelahiranku. Maklum hari H-3 menjelang lebaran, jalanan dari bandung menuju garut selalu di padati kendaraan umum maupun pribadi. Padahal jika hari-hari biasa, aku dapat menempuh perjalanan menuju kampung halaman hanya dalam waktu 3 sampai 4 jam. Fantastik bukan ?, dihari lebaran dibutuhkan waktu 3 kali lipat. hmm

Jalan ramai, takbiran menggema dari kiri kanan telinga. begitu jelas terdengar. Dan ledakan merecon pun menambah gembira suasa. Jauh dari kata sepi. Itulah yang kini aku rindukan di perantauan. Sedikit melankois memang. Tapi begitulah adanya. Kampung tempat pengabdianku Sumbawa Barat, sangat sepi. Tradisi di sini sangat berbeda dengan di kampung halaman. Takbiran keliling hanya dilakukan oleh para sesepuh aktifis mesjid. Anak muda belum terlalu berdaya. Remaja mesjid pun bukan lagi Remaja.

Desa Mantar, Kab. Sumbawa Barat. disinilah aku melaui hari idul fitri. Dimana saat jam sudah menunjukan jam 9 malam, semua warga masuk kerumahnya masing-masing. Tertidur lelap, dan beberapa mengobrol ringan dengan sanak family. Jangan tanya bagaimana kondisi mesjid. Tidak ada riuh di kampung ini, takbiranpun tidak terdengar lagi. Baru saat pagi menjelang, sekitar jam 04.30 WITA, takbir kembali bergumandang. Saat aku singkap tirai jendela, ibu-ibu sudah berseliweran dengan nampan besar di atas kepala yang berisikan makanan ringan. Tidak ada yang pergi ke jamban atau kamar mandi. Semuanya wanita sibuk dengan urusan keluarganya. Ada yang ambil air dan lain sebagainya. Aku pun segera pergi ke WC umum untuk mandi, waktu itu hari masih gelap dan sebentar lagi subuh.

selepas subuuh saat mentari mulai tersingkap, kaum hawa masih sibuk dengan kegiatannya yang tadi, sedangan beberapa pemuda dan kaum bapak nongkrong berselimut di depan rumah. Kegiatan kaum bapak ini sudah rutin dilaksanakan. Sejak aku belum menginjakan kaki di bumi serdadu kumbang ini.

Barulan pengumuman untuk shalat Ied terdengar keras dari mesjid. Shalat Ied dilaksanakan jam 08.00 WITA. jamaah pun mulai berdatangan memenuhi mesjid.

CYMERA_20150717_070423[1]

Usai shalat Ied saatnya keliling kampung, bersilaturahmi degan warga seitar. Jam 10 ayah angkatku di Mantar pak Di namanya, mengajakuku untuk ziarah ke desa teangga. Tuananga, begitu nama desa ini akrab terdengar, lokasinya berada di pantai, dan sangat panas. Jika kita lihat lokasinya seperti di padang pasir, gersang sekali. Disana banyak keluarga pak di yang sudah menunggu, kemudian kami makan bersama, shaat Jumat dan kembali pulang ke Mantar.

Iklan