Hidup di tanah orang menuntut kita pandai-pandai bergaul, menemukan saudara baru, paman baru, bapak baru, ibu baru.
Semuanya serba baru, termasuk gaya hidup baru yang harus di sesuaikan dengan kebiasaan makan di tempat yang kita tinggali.

Hari ini ibu angnkat saya baru sembuh dari sakitnya. Dia terkena sakit sesak nafas, dan sakit tambahan lainnya. Dia bilang awal sakitnya karena minum minuman dingin. Dia memang sibuk, seperti warga kebanyakan. Mayoritas warga kampung bertani, setiap pagi mereka berangkat ke garu (baca; kebun) untuk sekedar menjaga kebun ataupun sawah agar tidak di makan oleh babi liar yang ada di hutan.

Sejak bulan april musim panen sudah di mulai. Semua warga berbondong-bondobg pergi ke kebun, saling bantu untuk memanen padi yang sudah menguning. Puncak musim panen berakhir di awal bulan mei ini. Waktu istirahat warga sangat tidak teratur. Pagi-pagi kampung sudah mulai sepu. Begitupun rumah bu kenek, dia adalah ibu angkat saya selama saya mengajar di desa serdadu kumbang-Mantar .

Kelelahan membuatnya jatuh sakit. Segingga harus di rawat di puskesmas selama 2 hari. Alhasil kesehatannya sudah mulai membaik. Alhamdulillah. Karena hari ini libur, saya meluangkan waktu untuk membuat agar. Saya antar ke runahnya bada magrib. Rumahnya masih sepi, Bambang anaknya pun tidak ada di rumah. Rupanya bu kenek sudah cukup sehat, dia sedang berbincang dengan tetangga tetangganya.

image

Ini di bu kenek. Bersama anak aslinya, dan anak-anaknya yang lain. Di rumah ini biasa kami berkumpul. Namanya juga banyak anak, maka inilah yang terjadi. Agar yang hanya sedikit untuk seorang ibu yang baru sembuh dari sakit, malah habis di lahap oleh anak-abaknya. Sang ibu asal cicip saja 😉 tapi dia tetap senang ko. Sebagai orang rua tuanggal yang telah membesarkan satu anak laki-laki dan baik pada banyak orang lain, tidak membuat keaendiriannya menjadi sebuah rasa sepi.

image

Together

Iklan