Mail kecil semangat sekali untuk bersekolah. Namun banyak sekali rintang yang harus dia lewati. Menjadi anak dari irang tua yang fanatis tethadap partai berlambang banteng bermoncong putih pun menjadi hambatan besar untuk meraih mimpinya.

Kala itu tahun 80-an, saat indonesia sedang ramai melaksanakan pemilihan presiden. Masih tetap seorang soeharto menjadi pemimpin bangsa ini. Katanya, di masa itu kebutuhan hidup senantiasa terpenuhi, meski banyak rakyat yang masih terkekang oleh rezin Soeharto.

Begitulah pula dengan mail. Dia hidup dalam tekanan meski dia belum tahu, apa itu politik. Dia harus menjadi sasaran tembak para pendukung parti berlambang beringin.

Mail masih sekolah, dia bersama saudara (abak paman) sebentar lagi menyelesaikan masa SMP di SMPN 1 sateluk. Namun ayahnya yang terlalu fanatis pada partai banteng itu tak kunjung mau menyerah untuk berubah haluan.

Sang paman berbeda lagi, dia kepanjangan tangan partai golkar masa itu. Meski Mail adalah kepokannya, dia tidak sungkan untuk mengancam Mail.

“Mail kamu mau ikut ujian”
“Iya paman, minggu depan saya akan ujian, rus juga paman. Kami satu kelas”
“Memang kamu yakin akan lulus sekolah?”

Sang paman pergi dengan muka sinisnya. Mail tidak sempat menjawab pertanyaan pamannya. Hanya seribu tanya yang ada di fikirnya.

Pikirnya pun berkecambuk, hatinya mulai tidak tenang. Dia masih seorang anak yang tidak tahu apa-apa. Namun kali ini serasa ada yang aneh dengan pamannya.

Hari sabtu Mail, Rus beserta kawan-kawa sekelas nya di kumpulkan di ruang kelas oleh kepala sekolah.

“Anak-anaku sekalian bapak ingin menyampaikan suatu hal ”
Beberapa siswa mulau berbisik-bisik. Dan ketegangan nampak di raut wajah mereka, tidak terkecuali Mail. Dia juga begitu tegangnya. Mail kembali mengingat kata-kata sang paman. Mungkin ini jawabannya.

“Apapun yang terjadi di masa kampanye ini, kalian harus tetap tenang, tetap belajar. Jangan ikuti urusan orang tua kalian. Mengerti anak-anak?”.
“Mengerti pak” jawab semua siswa serentak.

Ujian Nasional pun berakhir. Dan hari menegangkan saat menerima surat kelulusan harus di terima Mail, begitu pula Rus.

” Mail. Seminggu sebelum kamu mengikuti ujian ada surat masuk ke sekolah dari keluargamu” kata bapak wali kelas 9

“Surat dari siapa pak? Setahu saya, ayah atau pun ibu tidak ada yang mengirimkan surat. Bakan saya tidak pernah kasih tahu saya pak”

“Ini terkait pemilu. Tapi bapak percaya bahwa kamu bisa menjadi anak yang lebih berprestasi.

Surat kelulusan pun di terima Mail. Semua murid bubar untuk memberi kabar ke masing-masing orang tua mereka. Sebelumnya mereka tidak di perkenankan membuka surat di sekolah. Surat hanya boleh di buka oleh orang tua.

“Sudahlah tidak usah kamu buka amplop itu!”
“Kenapa yah ?” Tanya Mail penasaran.

Seminggu sebelun seluruh siswa mengikuti UN, paman Mail sudah lebih dulu mengirim surat pada sekolah. Isi nya agar Mail tidak du LULUS kan dalam ujian nasional. Alhasil setelah amplop itu di buka, ternyata Mail di nyatakan lulus. Bagaimana dengan Rus. Nasib dia bertolak belakang. Dia di nyatakan tidak lulus.

15 tahun kemudian zaman sudah berganti. Mail sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang cerdas. Kini dia memberantas semua penyimpangan terhadap HAM di kampungnya. Dia bertekad untuk membangun kampunya, dan menyelamatkan anak-anak agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

Dia yang hari ini adalah seorang guru. Seorang suri tauladan bagi warga di kampungnya, yang banyak menginspirasi warga. Dan berkat ketekunannya, dia telah banyak membuka gerbang kesuksesan untuk anak-anak nya di sekolah.

Iklan