Saya masih teringat dengan guru ngaji saya waktu kecil. Waktu itu beliau sering mengajari saya tentang arti kejujuran, tolong menolong, keasabaran dan sfat-sifat baik lainnya yang harus dimiliki seorang manusia. Saya mereasa senang kalau guru ngaji memberikan nasehatnya. Beliau menyampaikan semua itu tidak dengan cara ceramah. Metode yang dilakukan adalah mendongeng atau story telling.

Melalui story telling atau mendongeng penyampaian materi akan terasa lebih asik dan menghibur. Menurut Krisfida dalam penelitiannya menyatakan bahwa dongeng berguna untuk pembangunan moral judgement atau karakter anak. Anak diperkenalkan dengan mana yang baik dan mana yang buruk.

Mendongeng bisa dijadikan alternatif untuk menanamkan karakter pada diri anak sehingga anak bisa tahu tentang moral judgemenet (baik dan buruk). Terlebih mendongeng memiliki banyak manfaat. Diantaranya merangsang keingintahuan, daya imajinasi, dan tentunya bisa menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

Mendongen bisa dilakukan oleh siapa saja, baik itu orang tua, guru, ataupun lembaga-lembaga dongeng. Era modern ini, banyak lembaga yang sudah melirik dongeng sebagai cara untuk membangun kaakter anak. Seperti dongen semut merah yang sombong, namun akhirnya dia sadar bahwa sombong itu adalah sifat buruk. Dongeng dapat diggunakan dalam membangun karakter anak.

Namun Ada beberapa hal yang harus di miliki pendongeng supaya anak tertarik dengan dongeng yang disampaikan. Setidaknya pendongeng harus memperhatikan gerak tubuh, suara, penokohan, serta ekspresi (Widiasari, 2012). Sehingga cerita yang disampaikan pada anak dapat dipahami dengan baik. Berikut saya jelaskan asperk di atas :

Pertama, pendongang harus memperhatika gerak tubuh. Mata anak akan terpusat pada orang menyampaikan dongeng. Pendongeng yang baik adalah yang bisa menghidupkan imajinasi anak, sehingga gerakan tubuh sangat berperan. Seluruh anggota tubuh harus hidup.

Kedua, suara. Sebagai bentuk penghayatan atas karakter tokoh yang disampaikan dalam dongeng, maka suara harus disesuaikan dengan tokohnya. Seperti suara anak yang sombong butlah suara selayaknya anak yang sombong.

Ketiga, penokohan. Tokoh yang disampaikan dalam dongeng haus disesuaikan dengan usia anak. Biasanya anak usia dini lebih menyukai tokoh-tokoh hewan. Seorang pendongeng berani menggambarkan tokoh tersebut dengan gambling. Karena anak pada usia dini akan lebih cepat menyerap informasi yang real.

Keempat, ekspresi. Gesture wajah menjadi bagian pertama yang diperhatikan sang anak selain ketiga hal sembelumnya. Jika kita perinci lagi, maka matalah yang sangat berperan dalam gesture. Menurut fackhrudin (2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa mata dapat berperan lebih dominan dalam menjelaskan berbagai ekspres. Orang marah, sedih, bingung, senang ditunjukan melalui pandangan mata.

Sebenarnya mendongeng yang asik bisa dilakukan dengan menggunakan boneka tangan atau tidak.  Boneka tangan hanya sebagai alat bantu agar ketertarikan anak semakin terpacu.

Iklan