image

Cerita hari ini sepertinya tidak akan ada habisnya jika saya tulis semua. Tapi hanya sepenggal cerita di sore hari yang akan saya bagi di sini.

Di “Istana Anak Sholeh” saya bercengkerama dengan anak luar biasa. Anak yang super aktif saya temukan disini. Tidak hanya aktif, suara mereka juga begitu nyaring. Jika salah satu di antara mereka mengeluarkan suaranya untuk bertanya atau hanya sekedar berdiskusi dengan temannya. Maka terdengar begitu jelas di telinga, serasa berdengung. Sakitnya yu di sini.

Burhanudin, dia menjadi satu dari sekian banyak anak yang ikut hadir di Istana Anak Sholeh. Dia adalah sosok anak yang sukar untuk di atur. Setelah saya memintanya untuk duduk tenang rupanya dia malah semakin menjadi- jadi, temannya di pukul tanpa alasan, dan terkadang mundar- mandir mansuk ke ruang tengah dan ruang dalam.

Hari ini saya mengajar di dua kelas. Kelas tinggi dan kelas rendah. Sebenarnya jadwal sore hanya untuk kelas tinggi. Namun a
ntusiasme mereka yang tinggi tidak mungkin saya bendung.

Pertama merasa kewalahan juga menghadapi anak sepeti nereka. Apa yang harus saya lakukan ?. Akhirnya terfikir untuk mendongeng di kelas rendah dan les matematika untuk kelas tinggi.

Kelas tinggi yang pertama saya tangani. Anak perempuan di kelas tinggi cukup mudah untuk di tangani, tapi tidak begitu dengan anak laki- laki. Mereka penuh aksi dan lebih banyak ambil suara.

Selesai menangani kelas tinggi, giliran kelas rendah yang harus saya sapa. Ada Sem, sebuah boneka yang menemani saya mendongeng. Dongeng yang saya sampaikan tentang semut sombong yang akhirnya dasar bahwa sombong membuatnya menderita.

image

Semua mata anak-anak itu lepas melihat Sem, apalagi kalau Sem berbicara. Anak yang melihat aksi Sem tertawa terpingkal pingkal. Boneka dongeng menjadi sesuatu yang baru bagi mereka, terlebih ketika saya menggerak-gerakan mulutnya dan mengeluarkan suara. Aneh mungkin ? Entahlah yang jelas mereka tampak senang 🙂

Bulak-balik di dua ruangan tanpa sekat menjadi pengalaman baru bagi saya, terlebih  saya harus menghadapi anak-anak istimewa Mantar. Cape ia, berfikir keras ia, tapi lebih banyaknya bahagia, karena bisa membuat mereka tersenyum bahagia. 😉

Ini hanya sepenggal cerita hidup dengan anak di daerah. Banyak hal yang bisa kita lakukan meski tidak disini. Membuat mereka tersenyum ceria menjadi langkah kecil membuka gerbang kesuksesan untuk mereka.

Semangat berbagi sahabat….

Dari Sumbawa Barat untuk indonesia… 

Iklan