Panasnya sumbawa barat semakin terasa saat siang tiba. Begitupun dengan mantar, kecamatan pototano, kabupaten Sumbawa Barat. Setelah selesai dengan tugas pertama, mengantarkan teman-teman satu tim ke tempatnya masing-masing. Hari ini saya menuju lokasi tempat pengabdian.
Desa mantar, sebuah desa yang terletak di kecamatan pototano, kabupaten sumbawa barat. Baru-baru ini desa mantar di nobatkan sebagai desa budaya. Rumah-rumah panggung tertata rapih. Gang yang memisahkan antar rumah cukup luas dan nyaman untuk dilewati. Warga hidup rukun dengan binatang ternak, ada sapi, domba, dan kuda liar.

Disini pernah dilaksanakan pengambilan gambar film serdadu kumbang yang sempat menyita perhatian pencinta film. Keindahan alam mantar di eksplorasi dengan baik.

Rupanya keindahan yang ditampilkan dalam film tersebut bisa saya rasakan setelah melakukan perjuangan panjang. Ya begitulah, saya harus melewati jalanan menanjak yang terjal dengan menaiki mobil ranger. Mobil ini adalah pemberian dari pemerintah desa setempat. Dengan mobil ini pula saya bisa menginjakan kaki. Panasnya daerah ini cukup membuat saya mandi keringat.

Di mobil saya besama dengan warga asli mantar. Sepanjang jalan mereka banyak mengobrol dengan bahasanya. Seperti orang sedang marah-marah, mereka mengeluarkan suaranya yang keras.

Sampailah saya di kampung serdadu kumbang. Dimana si ame tumbuh untuk meraih mimpinya menyelesaikan masa SD. Guru pengajar di SD Mantar keseluruhannya adalah laki-laki. Ada suguhan khusus saya masuk lokasi sekolah. Sangat berbeda dengan sambutan yang di dapatkan oleh teman saya andi yang mengajar di Rarak. Andi di sambut denga makan bersama, sedangkan saya disambut oleh kedatangan orang tua murid. Orang ini cukup gagah dengan tubuhnya yang kekar, dan usianya yang sudah cukup tua. Tiba – tiba dia masuk dan meminta guru untuk memanggil anaknya dan teman-temannya.

Sebuah pembicaraan serius di mulai, sang bapak marah tak jelas, ini sedikit membuat saya kaget dan tidak percaya akan apa yang terjadi saat ini. Bingung takut dan merasa aneh, seperti itulah rasa yang ada pada hati saya saat tersebut.

Untungnya para guru bijaksana dalam menyelesaikan masalah yang ada. Masalahnya menurut saya sangat sepele. Hanya karen teman anaknya meledek. Hal seperti ini sudah biasa terjadi dan tidak perlu di permasalahkan, bapak ini terlalu berlebihan. Begitulah kesimpulan yang saya buat.

Saya tinggal di salah satu rumah guru, Pak Di namanya. Dia guru asli Mantar, yang menjadi lulusan pertama dari SD mantar ini.

Begitulah hari pertama kedatangan Saya dengan sekelumit ceritanya. Mantar penuh pesona dengan laut lepas nan indah di bawahnya.

image

Iklan