Masayakarat sunda memang sudah dikenal dengan kesederhanaannya. Mereka ramah, baik, dan selalu menebar senyuman ketika berpapasan dengan orang lain. Begitupun dengan masyarakat sunda yang berada di daerah kampung cipinaha, desa malatisuka, kecamatan gunung tanjung, kabupaten Tasikmalaya. Berikut ini saya ceritakan sedikit karakteristik masayaraktnya.

_DSC4074

Daerah Cipinaha terletak di kabupaten tasikmalaya, Jawa Barat. Kalau saya bilang, daerah ini sangat jauh dari peradaban, bahkan untuk mendapatkan informasipun dirasa sulit, alasananya karena akses jalanan yang berbatu menanjak, dan licin, kendaraanpun tidak bisa masuk lokasi kampung,. Hanya kendaraan roda dua dengan tenaga yang kuat yang bisa menembus lokasi kampung cipinaha. Sinyal jaringan internet sangat sulit untuk di dapatkan, karena daerah ini di kelilingi oleh perbukitan. Namun ada fenomena aneh di sini. Ada beberapa titik/lokasi yang memiliki sinyal, meski kadarnya sangat lemah.  Misal di kaca-kaca jendela, dan di penjuru rumah.

Pekejaan harian masyarakat cipinaha adalah berkebun, petani sawah, petani Kapolaga, petani gula aren, dan dulu pernah menjadi petani salak. Penghasilan warga dari salak pernah sampai pada puncak kejayaan di di era 90-an, namun seiring dengan perkembangan jaman, harga salak dipasaran semakin menurun. Masa anjloknya harga salak dipasaran kisaran tahun 2000-an, harga mencapai Rp.500/kg. Dengan harga yang demikian, membuat warga mengalih manfaatkan tanah yang dulunya di Tanami beribu-ribu pohon salak, kini diganti oleh kapolaga.

Masyarakat sekitar membakar pohon salak untuk dijadikan kebun Kapolaga. Keuntungan yang didapat dari bertani Kapolaga dirasa menjanjikan. Ada juga warga yang mempertahankan tanaman Salak. Mereka beralasan bahwa salak sudah menjadi ikon di kampung cipinaha, mereka juga memilih mempertahankan Salak tersebut dengan karena salak dapat dijadikan sebagai buah tangan jikalau ada tamu yang datang ke Cipinaha.

Penghasilan warga tidak hanya dari bertani kapolaga, mereka juga panen “Lahang” setiap harinya. Satu pohon Aren bisa di panen dua kali sehari. “Lahang” yang sudah didapat lalu di olah menjadi gula aren, dan di jual pada pengepul. Sedangkan hasil bumi berupa padi, disimpan di rumah, biasanya padi akan dijual ketika warga betul-betul membutuhkan uang.

Para pemuda dan sebagian bapak-bapak bekerja sebagai tukang tambang Emas. Mereka menyebar di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Diantaranya tambang Emas dilakukan di NTB, Kalimantan, bahkan sampai ada yang ke daerah Papua. Dengan menjadi tukang pencari Emas, dirasa lebih cepat berpenghasilan. Namun tidak sedikit pula warga yang sudah mencoba menjadi penambang emas, tapi kurang mujur. Sehingga mereka kembali pulang dan lebih memilih mengurusi kebun, dan panen “Lahang” sepert warga kebanyakan.

Waraga cipinaha sangat terbuka. Ketika mereka pergi ke kebun ataupun sawah, rumah dari masing-masing warga tidak pernah dikunci. Kepercayaan terhadap sesama tetanga sangat kuat. Warga cipinaha masih mempertahankan sikap kerjasama dalam menyelesaikan pekerjaan dusun, misalkan saat pembangunan jalanan. Semua warga ikut andil dalam pembangunan jalan. Tidak hanya menyumbangkan tenaga, mereka juga menyumbangkan hartanya demi terselenggaranya pembangunan jalan. Karakter warga yang ramah terhadap para pendatang, ditampilkan dalam keseharian mereka.

Ada beberapa kebudayaan yang menarik dari warga cipinaha, mereka akan membuat tumpeng jika hasil panen bagus. Tumpeng yang sudah dibuat akan di bagikan ke tetangga-tetangga, atau sanak saudara terdekat. Kebudayaan yang lainnya adalah membantu ajeungan dalam menyelesaikan pekerjaan. Misalnya menggarap sawah. Warga akan berbodong-bondong turun ke sawah, walaupun ajeungan tidak memintanya.

Hal mistis di yang dipercai beberapa warga Cipinaha adalah hantu di hutan atau tempat-tempat terpencil. Mereka beranggapan bahwa hantu itu bisa mengambil anak-anak, sehingga anak tidak diperbolehkan bermain di tempat-tempat yang mereka anggap angker. Namun meski demikian, mereka percaya bahwa hantu itu bisa ditangkal dengan mengoleskan bawang pulih di jempol tangan, dan kaki anak, sehingga anakpun bisa aman dari gangguan si hantu.

Sayangnya tempat untuk mencuci, mandi, dan BAB masih sangat minim. MCK dibangun dari dua-sampai tiga buah bambu yang dipalangkan di kolam, lalu tiga bagian sisinya ditutupi oleh talupuh. Talupuh adalah bilahan bambu yang dipecah menyerupai tirai. Satu sisi lainnya di biarkan terbuka, sebagai pintu masuk.

Bahasa keseharian yang digunakan oleh masyarakat, tentunya bahasa Sunda, namun masyarakat di Cipinaha tidak menggunakan undak-unduk bahasa yang berlaku. Mereka lebih terbuka, tidak terlalu memperhatikan penggunaan bahasa yang sesuai dengan aturan bahasa Sunda. Hal demikian sudah menjadi hal lurah, yang mereka utamakan adalah kenyamanan, dan saling mengerti dalam komunikasi. Beberapa masyarakat memahami penggunaan kata yang benar, namun pada tataran teknis cukup sulit untuk digunakan.

Iklan