Masih ingatkah kamu teman ?

images (1)

Waktu itu kita berlari-lari, saling berkejaran. Bahkan loncat-loncat di atas bangku, mengangkat kursi, dan seisi kelas dibuat ribut oleh kita. Kesenangan itu mungkin sangat berkesan buatmu, karena akupun merasa seang waktu itu.

Ketika kita bersenang-senang, ada sosok guru yang mendampingi kita. dengan telaten beliau menengkan kita, agar kita belajar dengan fokus. Beliau mengajarkan kita ilmu-ilmu baru.

Kawan, Aku sempat memperhatikan guru masa kecilku. Sosok perempuan dengan tubuh gempal, dan berkaca mata. Dia mengarahkanku, agar aku bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Bu Iis namanya, perempuan tangguh dan cerdas yang selalu menemaniku dari pagi sampai jam 10.00 WIB. Dengan kesabarannya dia mendidiku. Mengajarkan membaca, menulis, berhitung. Meski hal ini tampak sederhana di mataku saat ini. Sesungguhnya usaha yang sudah bu Iis lakukan begitu berat.

“a,i,u,e,o”

“In Budi. Ini ibu Budi, Ii, Ayah Budi” beliau mengucapkannya dengan lantang, dan aku bersama kalian mengulanginya, dengan suara yang lebih lantang lagi.

Aku kira ini adalah awal pelajaran membaca yang paling kita ingat. Begitulah beliau mengawali pelajaran membaca, setiap hari berulang, masih dengan materi yang sama. Tidak pernah beliau mengeluh, dengan semua tugasnya sebagai guru.

Aku sadar, belum sempat berterimakasih padamu bu. Ingin sekali aku menyampaikannya langsung, atas rasa terimakasihku padamu. Jika saja aku gagal belajar membaca, menulis, dan berhitung waktu aku masih SD kelas I dulu, mungkin, aku tidak akan seperti saat ini.

Menjadi sosok Budi yang tahu dunia luar, menimba ilmu di kampus. Padahal waktu aku SD dulu, aku tidak pernah tahu ada yang namanya kampus, membayangkanpun aku tak bisa.

Aku yang sekarang adalah jalan darimu. Semoga setiap ilmu yang engkau berikan, sabarmu, keikhlasanmu, bisa menjadi pemberat timbangan amalmu bu.

#TerimakasihGuru

Iklan