Kini guru lusuh itu sudah pergi. Perpisahan sudah digelar dengan murid-muridnya. Lautan tangisan mengalir deras ,haru memenuhi seisi ruangan. Tak terkecuali anak kelas dua yang selama ini mengaguminya. Dia tidak ingin jauh dari guru muda itu. Detik-detik terakhir di gunakannya untuk bertanya segala hal, tentang angkasa, dan cita-citanya.

Beberapa saat sang anak menagih janji guru muda untuk mengajar di kelasnya. Sang guru hanya bisa minta maaf sembari menpuk-nepuk pundak anak.

“Maaf ya, bapak belum sempat mengajari nando, semoga nando bisa menjadi anak yang soleh, dan mampu meraih segala mimpi nando”

“Iya pak, gpp. Nando maafin” permintaan maaf diberikan Nando untuk pak guru muda.

Tangisan terus melimpah, diiringi sebuah musik tentang persahabatan. Guru muda mengalunkan bait-bait nyanyian sahdu itu ” sebiru hari ini”

Guru muda itu berharap Agar hari-hari kemudian menjadi hari-hari yang indah untuk siswanya belajar. Layknya hari ini yang biru, tidak ada hujan, namun kesejukan begitu terasa. Sang guru muda memberikan kenag-kenagan kecil untuk siswa-siswanya, dan sebuah kotak pinsil untuk Nando yang selama ini mengaguminya. Sang guru sudah dianggap seperti ayah, sehingga tiap kali belajar, Nando selalu bertanya pada gurunya

“Bu pak Guru ngajar di kleas kita kapan ?” kata-kata ini baru tedengar saat sang guru muda haerus pergi.

Waktu semakin sedikit, matahari terus naik tanpa menghiraukan perasaan guru dan siswanya yang sedang bernostalgia. Membayangkan pengalaman belajar yang menyenangkan selama dua bulan ke belakang.

Kini semua tinggal kenangan  dan harapan. Semuanya terus berproses meraih apa saja yang belum di dapatkan hari ini.

Guru muda itu lalu pergi merangkul siswanya, dan memohon doa. Semua masih hanyut dalam haru…

Guru muda itu harus tetap pergi. Menjemput anak-anaknya di belahan bumi sana, menyambangi bumi seribu pulau . Dan pergilah dengan doa-doa serta kenangan-kenangan indah.

10811212_10201839129419000_2099766679_n

Teaching with Heart 😉

Iklan