Dia kumal dan tidak terawat. Penampilannya seperti kebanyakan anak kampung, dengan baju yang kotor, dan badan berbau. kalau aku berada di dekatnya baunya yang khas tercium sangat kuat. Seisi ruangn semerbak. Awal pertemuan aku berfikir bahwa bau kelas disebabkan karena kelas kurang terawat.
Hari-hari berikutnya aku mengajar, aku belum kenal dengan anak itu. Hingga suatu hari aku sharing bersama guru-guru kelas. Aku bertanya banyak hal tentang kondisi anak disekolahku, tentang minat siswa dalam belajar, dan membaca. Satu anak menjadi trending topik di kalangan guru. Dia adalah adalah  Rangga. Rangga! siapa dia ?, sepertinya dia anak yang spesial dimata guru-guru. 
Pembicaraan semakin serius, suasana semakin tegas dengan cerita tentang Rangga. Rupanya dia anak yang belum bisa baca, susah di atur, dan selalu duduk di belakang. Aku memperhatikan kelas ada anak di belakang. 
Hari berikutnya aku masuk ke kelasnya, kelas II. Kelas yang hiruk pikuk, dengan jumlah siswa 31 anak, dan buku panduan mengajar yang tidak memadai. Ada sesosok anak di ujung, di belakang sekali. Kumal, tidak terawat, dan menyendiri. Dia tidak memiliki temnan sebangku. Bahkan dia lebih sering tidak memegang buku panduan saat pembelajaran.  Aku meminta temanya untuk berbagi buku panduan dengannya. Alhasil tidak ada yang mau. Sama sekali tidak ada yang mau. Aku bisa maklum dengan kondisi ini. Anak yang duduk paling belakang itu rupanya Rangga. Anak yang susah diatur, bau dan kurang terawat. Menjadi hal yang wajar jika teman-temannya tidak mau sebangku dengannya.
Berganti hari, aku lebih sering bertatap muka dengan siswa kelas II. Dimana ada Rangga di sana. Siswa yang biasa dudukdi depan lagi-lagi tidak masuk kelas. Ini saatnya aku mengubah anak nakal ini menjadi anak yang rajin dan pintar. Agar aku bisa lebih mudah menjangkaunya, aku minta dia pindah tempat duduk ke depan untuk menginsi bangku yang kosong. Rupanya memang benar adanya. Bau Rangga menusuk hidung. Membuat aku tidak tahan berlama-lama untuk mengajar dikelas ini. Tapi meninggalkan kelas bukan pilihan, aku adalah guru. Pantang untuku berkeluh kesah, apalagi meninggalkan anak didiku. Meski tak dapat di pungkiri baunya rangga sungguh menyiksa.
Rasa penasaranku tentang Rangga belum terputus. Heran saja dengan kondisi sekarang, semakin aku membuka diri, maka dia semakin dekat denganku. Tebar pesona, dengan caranya yang sering maju kedepan, nyanyi-nyanyi tidak karuan. aku berfikir ko bisa jadi seperti ini ya ? bukan ini tujuanku memindahkan rangga ke depan, mendekatkan bangkunya dengan bangkuku. Hingga aku memutuskan untuk bertanya padanya. 
“Rangga, tadi pagi mandi tidak ?”
Semangat yang menggebu-gebu serontak membuat mulut kecilnya berbicara “Mandi Bu”.
Tapi di dekatnya ada Sila. Dia adalah teman sekelasnya, dengan polosnya dia berkata “Bau ya bu?”
Aduh polosnya anak ini, dan aku hanya senyum kecil. Sebenarnya hatiku menganguk-angguk. Menyebutkan kata ia bau banget Sila. 

Pertemuan hari berikutnya aku masih konsisten bertanya pada Rangga, si anak spesial. 

“Rangga, tadi pagi mandi tidak ?”
Ranggapun masih konsisten dengan jawabannya “Mandi Bu”
Aku bertanya lagi, karena bau Rangga yang masih kental “Pake sabun ga ?”
“Pake”
“Sikat gigi ?”
“pake sampo ?”
“Ia bu besok aku pake sampo.
Sepekan aku tidak bertemu dengannya, rasa rindu pada akhirnya lewat diperlintasan hatiku. Bagaimana kondisi Rangga sekarang ya ? sudahkah dia mengikuti saranku untuk merawat diri ?. Sejurus kemudia mataku terpaut pada satu anak. Dia berlari-lari menuju ke arahku. Siapa dia ? ada yang baru dari tatanan rambutnya. Rambutnya lebih rapih, tepatnya baru di potong. Garis-garis bekas sisir masih segar terlihat. Rupanya dia adalah Rangga. Si kumel itu. 
Rangga yang rapi menyalamiku. Lalu tangannya terleas dari tanganku, dan masuk kesaku kecil celananya. Dia merogoh botol kecil dari sakunya.
” Wah bagus”
“kapan belinya? siapa yang beli? gimana bilangnya sama mama?”
Hatiku merinding. berdesir-desir terasa. Penampilan Rangga waktu pertama bertemu dan sekarang sungguh jauh berbeda. Hingga tiba saatnya jam pulang sekolah. Aku melihatnya dari kejauhan dia berjalan meninggalkan ruang kelas, tapi dia menoleh kebelakang dan melihtku. Berbaliklah tubuh kecil yang kondisinya kini jauh berbeda dari pertama aku lihat, dia kembali lagi, menghampiriku, menyodorkan tangannya untuku. 
“Bu salaman”
“ia sini”
Mungkin saatnya hari ini aku memberikan kadoku buat Rangga. Seperangkat alat mandi yang bisa membantunya dalam merawat diri.
baru saja beberapa jam aku berpisah dengannya. Sampai saat ini aku merasa rindu dengannya. Ingin rasanya cepat hari esok. Ingin cepat-cepat aku bertemu Rangga. Ranggaku yang bersih dan wangi. Dan akan aku berikan hadiah kecil ini, agar Rangga lebih bersih dari hari ini.
Terinspirasi dari:
#CatatnHatiMahasiswiMagangSGI7
Iklan