Ini cerita dalam perjalanan mencari ilmu ke sekolah di perkotaan. Namanya Wisata Pendidikan. Membaca nama kegiatannya sudah bisa dibayangkan ya ?. Kegiatan saya dengan rekan-rekan guru Sekolah Dasar lainnya untuk mencari ilmu dari sekolah-sekolah yang sudah cukup lama berkembang.
Kunjungan dilaksanakan di Bumi Serpong Damai (BSD)_Banten. BSD semacam komplek, disini seperti surganya pendidikan. Bayangakan saja, jarak antara sekolah satu dengan sekolah lainnya tidak terpaut jauh. Bahkan menempel satu sama lain. Sekolah yang ada di sekitar wilayah BSD lebih banyak sekolah swasta dengan mengusung baground agama. Ada sekolah kristen dan juga sekolah islam.
Ada 4 Sekolah Dasar yang kami kunjungi. Dan masing-masing mendapatkan satu sekolah. Sekolah Dasar Cikal Harapan menjadi tujuan saya. Baru sampai di depan pintu sekolah, saya sudah bisa merasakan atmpsfer yang berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya. Penjagaan yang ketat menjadi ciri khas sekolah yang diperuntukan bagi kalangan mengah keatas. Kurang lebih seperti Cikal Harapan ini.

Sebelum kami “rombongan guru” memasuki area sekolah, kami diwajibkan untuk melapor terlebih dahulu pada satpam yang bertugas. Lalu pak satpam menanyakan tujuan kedatangaan kami. Setelah dia mendapatkan informasi yang lengkap, baru kami semuia bisa memasuki area sekolah dan menuju SD Cikal Harapan. Di area Cikal Harapan rupanya tidak hanya berdiri Sekolah Dasar saja, tapi dilengkapi oleh pendidikan jenjang lanjutan yaitu, SMP, dan SMA Cikal Harapan.
Memasuki area SD Cikal Harapan, Display dan kalimat-kalimat afirmasi banyak terdapat menempel pada dinding-dinding tembok sekolah. Sala satunya adalah foto dibawah ini. Foto ini berisikan display wajah siswa yang dpadukan dengan gambar tubuh yang di lukis. Menurut ibu kepala sekolah ini adalah salah satu cara untuk menumbuhkan rasa cinta siswa pada sekolahnya.
Karya Siswa
Saya melihat ada kreatifitas yang terasah pada siswa-siswi disini. Setiap siswa yang memiliki kreatifitas selalu dipajang. Hasil karya siswa biasanya di pajang di mading kelas. Hal ini dilakukan pihak sekolah untuk menumbuhkan jiwa kretif, dan membangun rasa percaya diri siswa. Sehingga siswa terbiasa untuk membuat karya-karyanya.
Karya Siswa
Kalimat-kalimat afirmasi bertebaran di penjuru sekolah. Di samping tangga kelas, di dekat kantor guru, bahkan sampai di dalam kelas. Dan lebihnya dibuat semenarik mungkin. Di bawah ini contohnya. Kalimat ajakan mencuci tangan menggunakan air bersih dan sabun. Dilukis di tembok dengan warna yang menarik mata.
Lebihnya lagi sekolah ini tidak hanya melakuakan ajakan lewat kalimat-kalimat afirmasi, tapi fasilitas yang dibutuhkan untuk pelaksanaannyapun sudah lengkap. Hampir di depan setiap kelas ada wastafel lengkap dengan sabun cuci tangan, dan handuk pengeringnya.
Kelas yang saya sambangi untuk menjadi bahan observasi adalah kelas II. Anak-anak disini tubuhnya sudah seperti anak kelas V yang saya ajar di sekolah negeri di pinggiran Bogor.  Mungkin faktor taraf hidup juga yang mempengaruhi kondisi sisiwa.
Kelas yang ideal untuk proses pembelajaran, sehinnga siswa mampu bergerak aktif dan nyaman selama proses pembelajaran. Kelas II sudah menerapkan K13. Peran guru di dalam kelas benar-benar hanya sebagai fasilitattor. Lihat saja siswa dijadikan model dalam pembelajaran ini. Siswa diminta menghapus papan tulis, kemudian selepas itu semua siswa diminta untuk menuliskan kegiatan tersebut dalam bentuk kalimat. Pendekatan SAINTIFIK di terapkan dikelas.
Siswa Sebagai Model
Meski keributan masih terjadi, tapi konsentrasi siswa tidak hilang. Mereka masih mampu menangkap intruksi dari guru. Dan dengan sigap melkasanakan tugas yang dibertikan oleh guru. Menurut pengakuan bu Erri selaku guru kelas II, beliau mengatakan bahwa siswa di kelasnya sudah memiliki bekal ilmu yang cukup. Sehingga ketika memasuki ruang kelas siswa tinggal mengembangkan. Setip siswa sudah mampu menulis dengan baik, jika ada kekeliruan dalam penulisan, maka bu Erri segera meperbaikinya.
Guru Memberikan Penjelasan
Mengerjakan Tugas Menulis
Si sekolah ini khusunya kelas II, siswa aktif berdiskusi untuk memecahkan masalah yang ada. Mereka dengan semangat menyampaikan pendapat masing-masing. Ketika sesi diskusi sangat jarang sekali saya temukan anak yang diam.
Siswa Saling Menanya
Kegiatan pembelajaran yang ideal, selain di dukung oleh kesiapan siswa untuk belajar sudah sangat matang, management kelas akan menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Sehingga kesiapan guru dalam mengajar memang harus benar-benar dipersiapkan. Cikal Harapan menerapkan kultur diskusi bagi guru. Ada hari tertentu yang di khususkan untuk para guru berdiskusi seputar pembelajara. Ketika masuk kedalam kelas guru dituntut untuk siap menghadapi siswa yang bisa jadi keilmuannya sudah sangat banyak.
Selaku salah satu guru di SD Cikal Harapan bu Erri menuturkan bahwa ” Anak-anak disini memiliki tingkat konsentrasi yang baik, mungkin karena asupan gizi yang baik pula. Dibanding dengan anak-anak di daerah memang mereka lebih cerdas” beliau menambahkan “Contohnya saja pembelajaran hari ini. Tanpa saya menjelaskan panjang lebar tentang waktu pada Jam, mereka sudah tahu dan mampu untuk mangerjakan tentang tugas terkait”.
Begitulah cerita yang saya dapat dalam Wisata Pendidikan kali ini. Letak geiografis, asupan giji, dan faktor ekonomi lebihnya mempengaruhi pada kecepatan anak dalam mengkap ilmu yang dipelajari ketika di dalam kelas. Begitupun dengan management kelas, ini adalah hal yang sangat penting yang harus disiapkan oleg guru agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Iklan