Enih merupakan panggilan cinta untuk ibuku. Entah dari mana filosopinya sehingga tercetus nama itu. Mungkin dari kata Ummi, atau enin. Aku masih belum tahu. Dia yang begitu memperhatikan semua anak-anaknya. Bahkan sampai aku beranjak dewasa enih selalu ingin tahu kondisiku. Dia sering menelpon hanya untuk menanyakan kabarku.

Enih yang sudah membentuk hidupku menjadi seperti sekarang ini. Entah apa yang sedang beliau lakukan di rumah pada hari ini?. Mungkin sedang berfikir tetang anak-anaknya yang jarang ada di rumah, karena terlalu sering bepergian ke luar kota. Begitupun dengan aku yang terlalu menikmati dunia luar untuk menghabiskan waktu mudaku.

Syukurlah aku dibesarkan oleh ibu yang sederhana. Dengan kehidupan seadanya. Namun hati enih begitu memesona perasaanku. Meski kehidupan Enih alakadarnya, tapi untuk memperjuangkan kehidupan anaknya beliau rela berkorban waktu, hartanya, dan seluruh jiwa raganya untuk membuat aku dan anak-anaknya yang lain menjadi manusia terdididik.

Enih tidak pernah menginginkan anaknya terlempar dalam dunia yang sama sepertinya. Dunia serba pas-pasan. Dibalik itu semua Enih sudah mengajarkan ilmu kehidupan. Enih selalu berpesan “jadilah anak yang baik dalam segala hal, dan jangan pernah lupa untuk mengucapkan terimakasih pada orang-orang yang sudah membantumu”. Aku rasa enih tiada kurangnya. Meski terkadang dia suka menangis didepanku ketika dia merasa gundah. Dan itu membuat hati ini semakin luruh. Aku belum bisa melakukan apapun untuk Enih.

Aku yang sekarang sedang merantau hanya dapat berdoa,” Semoga enih dalam kondisi yang baik-baik saja, dan allah selalu meridhai segala aktifitasnya”. ” Enih jangan terlalu memikirkan anak-anakmu, yakinlah jika hari ini engkau sudah mendidik kami dengan baik” inilah anakmu yang sudah kau tempa.

DSC04579

#MelepasRinduEnih

 

 

Iklan