Jangan salah dengan pribahasa “Bogor Kota Hujan”. Pribahasa itu terbantahkan setelah aku merasakan panasnya kota Bogor. Rupanya Bogor tidak selamanya hujan. Kadang panas terik masih sangan terasa. Pagi-pagi sekali aku siap-siapkan untuk pergi menyusuri kota Bogor. Dalam sebuah misi yang disebut City Tour. Aku bersama teamku memiliki tugas untuk menemukan sebuah musium yang dekat dengan kebun raya bogor. Musium itu bernama “musium peta”. Bogor yang kaya akan musium mengharuskan kami banyak bertanya agar tidak tersesat.
Dengan bekal uang Rp.50.000 kami memulai tugas. Uasng tersebut harus digunaan secukup mungkinsehingga kami bisa sampai dilokasi dengan selamat dan tepat waktu. Masing-masing kelompok menyusun strategi agar mampu menjalankan tugas dengan baik sesuai dengan intruksi yang sudah diberikan. 
Setelah menyusun strategi sebaik mungkin, teta saja kami harus naik angkot. Tentunya uangng le Rp.50.000 habis. Padahal rencana awal kita akan menyetop mobil bak terbuka yang lewat. Setiap mobil yang lewat tidah pernah berhenti. Kalupun ada yang berhenti arahnya tidak sesuai dengan apa yang kami harapkan. Rata-rata dari mobil tersebut akan berhenti di daerah yang dekat. Tidak bisa mengantaran kami ke lokasi. 
Sampailah kami di lokasi. Musium peta yang megah dan besar. Saksi perjuangan para pahlawan Indonesia dalam memerdekakan negara ini. Ornamen-ornamen bangunan dihiasi oleh lukisan perjuangan. Para pahlawan mengangkat bendera kebanggaan Indonesia. Genggamannya begitu keras. Kepalannya begitu kuat. Sungguh ini menyentuh hati kami.
Perjuangan untuk sampai lokasi yang penuh cerita. Rasanya herois sekali. Pak supir angkot mengantarkan kami sampai musim peta. Selain itu kami dapat dua botol aqua gratis, satu bungkus gorengan, dan 1 tisue untukteman kami Asanty yang kala itu sedang sakit flu. Indahnya perjalanna ini begitu terasa. Bercerita segala hal dalam angkot. Bahkan berbincang dengan beberapa penumpang seputar kondisi Bogor.
Satu demi satu, masing-masing kelompok berdatangan. Hari semakin siang. Rasanya panas semakin kulit hitamku. Bahkan warna kulit saat itu sudah seperti pohon terbakar. Hitan tidak jelas. Lebih dari itu, panansnya kota Bogor bisa membuat kami dehidrasi. Syukurlah kami dapat berkah dua botol aqua yang diberikan pak supir angkot.
Misi tidak berakhir disitu. Kami masi memiliki tugas yang lebih. Musium peta hanyalah tempat kami singgah. Kebun rayalah tujuan utama kami. Di kebun Raya kami harus menemukan mr.Kam. Dia adalah pemegang kunci agar kami bisa memasuki kebun Raya dan menemukan pos-pos yang sudah ditentukan. Lama berjalan, 1 jam lebih mungkin. Sampai pegal rasanya kaki ini. 
Sesampainya di lokasi, kami mngubek-ubek pelataran masuk ke Kebun Raya. Tujuannya hanya ada satu, yaitu menemukan mr.Kam. Setelah kami menemukannya, akhirnya diberikanlah sebuah kata kunci “Merdeka”. Dengan pekikan teriak kata “Merdeka” barulah kami bisa masuk lokasi. Setiap pos kami cari dengan sungguh-sungguh. Sebelimnya kami sudah diberi gambarah lokas pos yang bisa kami temukan. Sehingga tidak sulit untu kami menemukannya.
Semua tugas dari pos kami coba selesaikan dengan baik. Kebun Raya disusuri dengan penuh semangat. megahnya Istana Bogor tidak bisa dilihat dengan jelas. Hanya dari pinggiran sebuah sungai buatan yang sangat kecil di apit oleh pagar besi kokoh. Dari sanalah kami melihat Istana dengan cat khas berwarna putih.

Pejalanan mengelilingi Bogor selesai. Kami segera kembali pulang untuk beristirahat… Serunya hari ini…
Iklan