Panas menyengat itu yang pertama saya rasakan. Turun dari kereta segera para penarik becak menyerbu penumpang. Sepetinya mereka sudah cukup tahu, jika ada anak muda yang keluar dari stasiun sudah pasti pertanyaan yang keluar adalah “ mau ke pare de?”. Nah itu lah kalimat jitu yang pasti akan pertama kita dengar. Tapi jangan salah selanjutnya akan datang paksaan. Sebenarnya cukup dekat dari stasiun ke pangkalan angkot yang bisa mengantarkan kita ke kampung inggris pare. Sekitar 500 meter saja. Di satu sisi terdapat halte pemberhentian angkot. Disanalah saya menunggu angkot pare, namun untuk menempuh jarak 500 meter ini butuh perjuangan yang kuat, karena panasnya itu loh. Keringat bercucuran, dan sepanjang jalan saya tidak melihat orang berjalan kaki. Ah, tak apalah, berjuang! Alias ngirit he. Memang harus ngirit hidup di tanah orang itu. Apalagi kalau keuangan pas-pasan.

Tibalah saya di kampung Inggris. Sebuah kampung kecil dimana orang-orangnya bercakap sehari-hari menggunakan bahasa Inggris. Benarkah?. Rupanya itu hanya mitos. Kenyataannya tidak begitu. Warga sekitar masih cinta dengan bahasanya, bahasa jawa. Mereka tidak menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian. Terbukti ketika saya bertanya satu tempat, mereka menjawabnya dengan bahasa jawa yang leuket.

Saya cukup kebingungan untuk mencari tempat pertama yang akan saya datangi. Rencana pertama saya adalah mendatangi satu lembaga yang dinaai SMART ILC. Nampaknya kelinglungan saya tertangkap oleh seorang mahasiswa Universitas Islam Malam. Dia melewati saya, tapi ternyata kembali menghampiri saya. Dan membantu saya untuk mendapatkan tempat yang saya cari. Memang benar, kala susah pasti masih ada orang yang baik dan mau menolong sesamanya. Seketika saya mengucapkan kata “terimakasih” dan menaiki motor yang dia pake dengan sedikit tarikan nafas senang.

Sampailah saya di SMART ILC. Ketika mau mendaftar, rupanya masih jam istirahat. Saya pergi kemasjid dan mengambil air wudlu untuk melaksanakan shalat duhur. Seusai shalat, segera kembali kesekretariat SMART ILC. Penjaga secretariat sudah ada, dan saya langsung mendaftar. Program yang saya ambil adalah Elementary Grammar. Program ini adalah program paling dasar untuk mempelajari grammar. Kata beberapa orang, untuk mencapai Toefl yang baik harus dimulai dari belajar Grammar. Itulah sebabnya saya mengambil program ini. Meski sebagian orang menyarankan unutk mengambil speacking terlebih dahulu. Oh iya budget yang dikeluarkan untuk program ini adalah Rp.180.000/ bulan, kalau dihitung per pertemuan adalah Rp.2500 dikalikan 72x pertemuan.

Perjuangan dihari pertama tidak sampai disini. Saya harus mencari kos-kosan. Meskipun cukup banyak tempat kos di pare. Saya harus memilah-milah tempat yang cocok, yang bisa mendukung saya dalam belajar bahasa inggris. Satu masalah lagi tiba. Untuk mencari kosan tidak bisa dilakukan dengan jalan kaki. Karena terik matahari disiang bolong, cukup menyengat tubuh. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sepedah. Kenapa membeli sepedah ?. saya berencana tinggal di pare ini cukup lama. Teringat nasihat salah satu penumpang di kereta, dan dia juga sedang menjalani kursus di pare. Jika berniat lama di pare, mending beli sepeda, dari pada nyewa. Saya piker ada baiknya juga. Itung-itung nabung buat ongkos pulang nanti. Toh jual sepeda di sini cukup mudah.sepeda yang saya beli ini masih cukup mulus, meski sepeda bekas. Harganya Rp. 350.000.

Sepedah ini yang mengantarkan saya untuk mencari tempat kost. Setelah cukup lama saya berkeliling. Saya berhenti di PDF atau pondok darul falah. Rencana untuk belajar bahasa inggris sambil nyantren. Rupanya untuk mendapatkan pesanten cukup sulit. Selanjutnya saya mencari kembali. Dan ditemuailah pesantren al-maarif. Setelah bertanya panjang lebar, akhirnya saya memilih untuk kembali ke PDF. Alasannya karena di maarif basisnya lebih ke bahasa arab. Bukan pesantren yang mempelajari kitab-kitab yang bisa di aplikasikan dalam keseharian. Untuk harga kos di PDF, pembayaran pertama Rp. 200.000. Dengan bayaran bisa dapat baju seragam, dan itu sudah plus uang kos bulan pertama. Sedangkan untuk bulan-bulan berikutnya, cukup dengan Rp. 85.000/ bulan. 

Jadi kalau orang yang cukup boros, saya pikir untuk bulan pertama setidaknya membutuhkan pengeluaran Rp. 1.000.000. Untuk semua kebutuhan 1 bulan kedepan sudah cukup terpenuhi. Tapi belum sama makan. Makanan di sini cukup murah, sehingga tidak akan terlalu menguras dompet. Paling murah itu nasi pecel Rp.3.500/ porsi, cukup mengenyangkan. Tapi untuk lidah non Jawa mungkin sedikit kurang pas. Kalau buat ngirit cocok, biar bisa lama menuntut ilmunya.

Ayo coba embuat jejak brother…. Always traveller for search knowledge.  😉 so inggris dikit, padahal ga tahu bener apa salah ? hehe

Iklan