Keberangakatan Ke Pare-Kediri

Setelah berbuka puasa bersama teman-teman kosan, segera aku merapihkan semua barang yang akan ku bawa untuk keberangkatan ke Pare-Kediri. Salah satu teman mengantarkan ke stansiun. Keberangkatan kereta dijadwalkan jam 08.30, tapi ngaret 30 menit. Setelah memasuki gerbong kereta, kucari kursi yang sesuai dengan nomer yang tertera di tiket. Aku menemukannya kursi 19D di gerbong 3, kelas ekonomi. Tak jadi masalah, meski pakai kelas ekonomi, tapi fasilitas tidak terlalu buruk.

Teringat 4 tahun silam. Pertama kalinya aku menggunakan kereta api untuk melakukan ekspedisi terjauh pertamaku. Tempat tujuan waktu itu merupakan tempat tujuan yang sama dengan saat ini Pare-Kediri. Kereta api ekonomi kala itu semrawutnya minta ampun. Para pedagang memenuhi semua sela-sela kereta. Sulit sekali untuk bergerak. Bahkan binatang peliharaanpun bisa ikut masuk, menjadi salah satu bagian penumpang kereta api kelas ekonomi.

Saat ini perawatan kereta api ekonomi cukup baik. Dilengkapi dengan AC dan para pedagang asongan tidak dperbolehkan lagi untuk menjajakan dagangannya di dalam kereta. Walau begitu, masih saja ada satu dua orang pedagang asongan yang nakal naik disela-sela kereta berhenti.

Dari Bandung kereta api dipenuhi penumpang, mungkin sampai kota Yogyakarta. Setiap kursi masih terisi. Setelah memasuki Jawa Timur, sudah bisa dipastikan kursi-kursi banyak yang kosong. Setelah semalaman punggung bersandar pada sandaran kursi yang kurang nyaman. Akhirnya aku bisa merentangkan tulang-tulang punggungku yang pegal.

Sesekalai aku melihat pemandangan alam pagi. Hijau, awan-awan terlihat jelas, seperti di atas ubun-ubun. Hamparan sawah, ladang dan perkebunan Tebu terbentang luas. Para petani seperti burung-burung yang sedang mencari makan. Diantara mereka ada yang sedang menggarap sawah, memupuk sayur-sayuran dan lan sebagainya. Pokonya punya kesibukan masing-masing dengan variasi yang berbeda.

Tapi sesaat hati ini serasa hampa. Aku jadi rindu kampungku sendiri. Entahlah mungkin ini yang disebut dengan ‘tidak betah’. Padahal sampai ke kediripun belum. Ah dasar perasaan ini kadang bisa mengolengkan tekad dan niat yang sudah bulat. aku coba menghibur diri dengan mendengarkan lagu-lagu yang bernadakan Haroki, biar tambah semangat gitu. Dan alhamdulillah cukup berefek.

Niatan di pare minimal 6 bulan. Untuk memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris memang tidak dengan waktu singkat, alias butuh waktu cukup lama. Semoga bisa tercapai dan mampu bertahan. Meski jika mengingat saku yang apa adanya, aku kurang yankin akan bisa selama itu menuntut ilmu bahasa di kampung inggris pare. Dalam hati hanya bisa bergumam ‘lihat nanti saja, yang penting jalani hari ini. Hari depan pasti ada pertolongan Tuhan ‘.

Untuk belajar memah butuh dana yang tidak sedikit. Tapi niat yang bulat dari hati, itu adalah hal yang lebih penting. Terlebih merantau dinegeri orang. Gak betah dikit kalau hatinya lunak pasti langsung mau pulang, meski pendanaan memadai.

Sungguh-sungguh itu harus. Setiap jam ditempat menuntut ilmu jangan sampai sia-sia begitu saja. Aku harus memanfatkan waktu sebaik mngkin. Pantang untuk minder. Namanya juga belajar, meski gak tahu, mending bertanya. Berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan kemampuan yang diinginkan.

Ini adalah langkah berikutnya yang bisa aku tempuh untuk mendapatkan apa yang aku ingin. Karena hidup ini terlalu singkat. Tidak berarti rasanya, jika tidak ada sesuatu yang didapat, sesuatu yang beda untuk melanjutkan masa depan, masa generasi kehidupanku selanjutnya.

 

Pare I am coming. Please help me for clutched my dream. I certain, I can have my dream with aid god. Bismillah saja lah 🙂

 

Iklan