Novel ini mengisahkan kekuatan sebuah adat yang sudah turun temurun di yakini. Berlatarkan Mengkasar dan Padang. Terkisahkan seorang pemuda bernama Zainudin anaj dari seorang ayah asal Padang yang menikahi gadis Mengkasar dan akhirnya menetap disana. Zainudin kecil tumbuh tanpa orang tua karena ditinggal wafat. setelah menginjak remaja dia memutuskan untuk mencari asal muwasal leluhurnya di Padang. Namun setibanya disana para engkunya tidak terlalu acuh. Adat yang menjadi pembatas darah mereka. setelah lama tinggal di Padang Zainudin dipertemukan dengan seorang gadis rupawan yang baik perangainya, sehingga diapun tertarik. Semakin lama semakin menjadi rasa suka pada Hayati. Mereka sama-sama orang terdidik, tak baik melakukan hubungan(pacaran), agama dan adat sangat melarang hal ini.dalam perjalanannya mereka berkirim surat. Suart yang sarat akan Hikayat, alunan kalimat yang begitu memukau jika dibaca oleh siapa saja yang membacanya. Tak lama berselang akhirnya tercium juga, bahwa Zainudin memiliki hubungan dengan Hayati. Engku/ leluhur adat menolak dan tidak menerima hal ini. Dimintalah Zainudin untuk meninggalkan tanah padang. Zainudin meninggalkan tanah Padang dengan berat hati, meski janji sudah terpatri dalam hati mereka berdua “Hatiku ada dalam hatimu, begitupula sebaliknya”. Kerinduan hayati semakin membuncah terhadap Zainudin, karena sudah lama tak bersua. Akhirnya hayati memutuskan untuk berlibur ke padang panjang untuk sekedar menonton pacuan kuda. Kebetulan dia memiliki sahabat, jainab namanya. Jainab adalah kawan karibnya selama menuntut ilmu. Dipertemukanlah Zainudin dan Hayati dalam pertemuan yang sungguh telah lama di nanti. Kala itu ada yang berbeda dengan Hayati. Biasanya dia berpakaian rapih dengan kerudung melekat dikepalanya. Namun kini pakaian yang dia kenakan tidak sewajarnya. Rupanya jainab sudah mempengaruhi, dan memaksa Hayati agar berpakaian yang pantas menurut kebiasaanya. Zanudin tak terima bunga mawarnya yang begitu semerbak dinikmati kumbang-kumbang diluaran. akhirnya dia mengingatkan Hayati, bahwa penampilannya yang dulu lebh pantas dari pada ketika itu. Rupanya Jainab memiliki kaka laki-laki. Jainab harus menikah beberapa saat lagi, sedang kaka laki-lakinya belum jua menikah. Dia berinisiatif untuk menjodohkan aziz(kaka Jainab) dengan Hayati. Aziz sudah jelas suka, dia laki-laki berhidung belang yang hanya bisa berpoya-poya. Dilamarlah hayati oleh aziz. tak lama waktu berselang Zainudinpun seudah merasa siap untuk melamar hayati. Zainudin yang sebatangkara, tidak bisa meminta siapapun untuk melamrkan hayati untuknya. Dikirimkanlah sepucuk surat pada engku Hayati sebagai bentuk resmi lamarannya. Para tetua adat memusyawarahkan kedua lamaran itu. Zainudin pemuda tak beradat, suku padang lebih ternama daripada dia. kalaupun Hayati terpaksa harus ditikahkan dengan orang luar, maka orang yang jelas asal usul dan kaya yang bisa menikahinya. terpilhlah Aziz sebagai calon suaminya. Dikirimilah Zainudin sepucuk surat, keputusan hasil musyawarah tetua. Rupanya dia kecewa, setelah kejadian itu dia sakit begitu lama, meski Hayati sudah mencoba meringankan sakitnya. 3 bulan berselang pulihlah Zainudin dari sakitnya. Dia memutuskan untuk merantau ke pulau jawa. Disertai sahabatnya yang selama sakit menenmani dan merawatnya, dia pergi ke jakarta. Zainudin pandai berhikayat. Tidak sulit untuknya hidup dijakarta. Dengan cepat dia terkenal sebagai penulis pada koran ternama di Jakarta. Setelah merasa cukup, dia pindah ke surabaya. Surabaya lebih dekat ke mengkasar jadi lebih mudah jika dia ingin pulang ke kampung kelahirannya. Di surabaya nama Zanudin semakin melejit sebagai pengarang hikayat yang sangat penomenal. Dia dijuluki tuan ‘Z’. Terdengarlah kabar sampai ke padang, bahwa di Surabaya ada seorang penyair yang karangannya begitu menyentuh hati setiap pembaca. Hayati membaca salah satu buah karyanya. Isi ceritanya begitu mirip dengan jalan hidup Zainudin yang tak diterima oleh orang beradat.

Aziz dan Hayati pindah ke Surabaya, karena Aziz dipindahtugaskan oleh atasannya. Di Surabaya perangai Aziz berubah seperti sedia kala. Peminum, pemain wanita, Judi dan selalu pulang tengah malam. Sampai akhirnya ajab menimpanya. Hutang menumpuk, dan diusirlah dia dari rumah kontrakannya. Beruntung dia sempat mengikuti klub anak Sumatra dimana Zainudin sebagai pendiri sekaligus orang yang dituakan dalan klub tersebut. Aziz tak punya harapan lain selain memohon pertolongan pada Zainudin. Lama berselang akhirnya Aziz memutuskan untuk pergi mencari kerja, dan Hayatipun ditinggalnya.

Tersiar kabar Aziz yang malang mati gantung diri di kamar hotel. Kabar ini dengan cepat terdengar oleh anak-anak klub sumatera. Sebelum kematiannya dia sempat mengirimkan dua pucuk surat yang masing-masing untuk Zainudin dan Hayati. Dia meminta maaf pada Zainudin dan  menyerahkan Hayati kembali ketangannya. Sedangkan surat yang satunya untuk hayati berisikan surat talak.

Zainudin tidak serta merta menerima permintaan tersebut. Sakit hatinya yag begitu dalam memberontak. Dimintalah Hayati untuk kembali ke Padang. dibelikannya tiket pulang dan uang untuk belanja oleh-oleh. Hayati hanya bisa menurut, meski sebenarnya ealaupun dia sudah bersuamikan orang lain, namun hatinya terpatri hanya untuk zainudin seorang.

Kepulangan Hayati adalah kepulangan untuk selamanya. Kapal Van der Wijh yang dia tumpangi karam ditengah jalan. sehingga menewaskan puluhan penumpangnya, termasuk Hayati. Zainudin pedih hanya bisa meratapi penyesalannya.

Akhirnya Zainudin mengikuti Hayati untuk selamanya. Setelah menyelesaikan buku terakhirnya yang penuh drama kesedihan. Tangan lincahnya terpatung memegangi pulpen di atas helaian kertas terakhirnya.

Iklan